Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°
°
°
°
°
°
─┉┈◈◉◈┈┉
Manusia diajarkan cara merelakan, namun tidak dengan mengikhlaskan
─┉┈◈◉◈┈┉
Danau yang luasnya tak dapat direngkuh itu membentang sunyi di hadapan Zayyan, tenang tak bergelombang seperti tak pernah disentuh satu senti pun oleh waktu. Airnya memantulkan warna langit jingga yang terang dan menenangkan, di sekelilingnya, pepohonan menjulang, tinggi rendah sangat beragam, dengan dedaunan rindang yang bergoyang perlahan membawa angin berbisik.
Tak ada suara apapun, tak ada jejak kehidupan manusia lain, hanya semilir angin dan gemericik air yang mengalun seperti memanggil namanya. Zayyan berjalan perlahan ke tepian, kakinya dibawa menginjak dermaga hingga menimbulkan bunyi decitan halus. Burung-burung beterbangan, tapi tak satu pun dari mereka mengepakkan sayap, seperti tahu jika moment ini sangat rapuh dan tidak boleh diganggu oleh suara sekecil apapun.
Semua terasa terlalu damai, terlalu utuh, terlalu nyaman.
Dan untuk sesaat, Zayyan lupa bahwa beberapa saat lalu dirinya tenggelam dalam tidur.
Danau ini, danau yang sama. Danau yang kerap hadir membawa dirinya pada kehangatan lama. Danau dimana Leo selalu tersenyum menyambutnya, menggenggam tangannya seperti saat-saat mereka tumbuh bersama. Namun juga, ini danau yang sama, yang sudah merenggut Leo dari Zayyan.
Zayyan berdiri terpaku di tepian dermaga, sebuah kano kayu mendekat. Tidak ada yang salah dengan kano-nya, tapi keberadaan sang adik yang tengah duduk manis diatasnya dengan tangan melambai, pun dengan senyumnya yang mekar, cukup membuat Zayyan kembali berwisata pada ingatan kelam kala itu.
Kala tangannya tak dapat membawa Leo naik kembali keatas kano yang mereka tumpangi.
Kepalanya memerintahkan untuk mengambil langkah mundur, namun hatinya memerintahkan untuk berjalan maju. Zayyan memilih mengikuti apa kata hatinya, menggapai sang adik yang masih setia duduk dengan senyum manis disana.
Leo menunggunya.
Menunggu Zayyan kembali memegang tangannya.
Meski penuh takut dan ragu, Zayyan mantap membawa kaki tanpa alas itu masuk kedalam kano. Mendudukkan dirinya berhadapan dengan sang adik.