Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°
°
°
°
°
°
─┉┈◈◉◈┈┉
Menyedihkan adalah ketika mendapati diri tersesat sendirian dalam kekosongan ruang yang terdistorsi lewat bayang-bayang angan
─┉┈◈◉◈┈┉
" Selamat ulang tahun jagoannya kakak "
Yang diucapkan selamat mengembangkan senyumnya lalu berlari memeluk sang kakak yang terpaut usia 6 tahun lebih tua.
" Adek mau hadiah apa tahun ini ? Mobil mobilan ? Robot ? "
Anak kecil yang sedang berulang tahun itu menggeleng, " Adek cuma mau hidup lebih lama, tumbuh dewasa bareng kakak, bareng ibu, teman-teman... "
-
Zayyan terengah-engah bangun dari tidurnya. Lagi-lagi mimpi itu, mimpi yang beberapa bulan belakangan selalu hadir setiap dirinya menutup mata. Mimpi tentang dirinya semasa remaja bersama Sing yang masih anak-anak.
Peluh di pelipis tak ayal turun membasahi baju yang dipakainya.
Zayyan menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, begitu terus secara berulang. Dia berusaha menenangkan diri seperti yang selalu diajarkan Sing.
Teringat akan adiknya, Zayyan akhirnya menyadari jika sekarang dirinya masih terduduk di meja makan.
Sendirian.
Zayyan menghela nafas berat menyadari dirinya ternyata kembali tertidur diatas meja persis seperti sebelumnya.
Sunyi. Hanya dentingan jam di dinding dan suara rintik hujan diluar yang sudah mulai mereda yang terdengar. Makanan yang tersaji didepannya juga sudah mendingin kembali.
Tapi Sing tidak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.
Pintu kamar mandi masih tertutup rapat.
Zayyan bangkit, mencari sang adik kedalam kamarnya, namun kosong. Zayyan kembali berspekulasi mungkin Sing masih berada di kamar mandi.
Tapi tidak terdengar bunyi gemericik air sedikit pun selain gemericik air hujan diluar.
Dengan ragu, pintu kamar mandi diketuk beberapa kali dan tidak ada sahutan.