Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°
°
°
°
°
°
─┉┈◈◉◈┈┉
Jika tak ada yang terbaik, maka jangan pernah jatuh pada yang terburuk
─┉┈◈◉◈┈┉
" Gimana... Zayyan di rumah ? Ada perkembangan ? "
Dokter Hyunsik bertanya, menyimpan dua cangkir teh susu yang masih panas mengepul ke udara, menyodorkan satu gelasnya pada yang diajukan tanya. Suasana tenang dan bau obat-obatan yang khas bercampur dengan aroma teh susu yang menguar melewati indera pembau.
Sing menyeruput liquid manis dan hangat yang disajikan padanya, " Masih sama. Tapi mimpi buruknya gak sesering dulu "
Dokter muda itu mengangguk lega, " Berarti terapi kemarin berhasil "
Sementara pemuda dihadapannya menerawang menatap langit-langit ruang kerja sang dokter. Ada sorot lelah, ragu, kebimbangan, namun juga penuh harap.
" Kak Zayyan....udah bener-bener lupa sama Leo sekarang, dok... "
Hembusan nafas putus asa terdengar begitu jelas di ruangan kecil yang tanpa bising, pemuda yang masih mengenakan jas almamater biru perguruan tinggi tempatnya belajar itu, menatap dokter Hyunsik memohon.
" Apa...gak ada cara lain, dok ? "
"....kemarin saya inisiatif tunjukin foto Leo, tapi kak Zayyan bener-bener gak inget sedikitpun tentang dia "
Yang ditanya menggeleng pelan, " Maaf, Sing. Kita sudah sejauh ini. Yah, mungkin saya keliatan kejam, tapi ini demi kebaikan Zayyan juga. Kita cuma bisa tunggu sampai Zayyan ingat kembali tragedi itu tanpa paksaan "
Sing diam, entah harus menunggu berapa lama lagi. Kadang dirinya merasa pesimis, apakah ini benar-benar akan berhasil ? Zayyan tanpa Leo bukanlah Zayyan. Sampai kapanpun, dirinya tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Leo.
Melihat itu, dokter Hyunsik kembali bertanya, pertanyaan yang sudah pasti akan dijawab dengan anggukan mantap tanpa keraguan.