Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°
°
°
°
°
°
─┉┈◈◉◈┈┉
Nyala lilin selalu menghilang dilelehan terakhir, lalu kapankah luka akan meleleh dan turut berakhir ?
─┉┈◈◉◈┈┉
Angin menyapu cukup kencang tapi masih lembut menyapa kulit dan dedaunan. Suasana nampak sunyi namun disisi lain juga menenangkan, membuat Zayyan enggan pulang. Langkahnya mengayun pelan bersamaan dengan langkah lain disampingnya.
Mimpi ini lagi.
Entah ini kilas balik memori atau hanya sekedar bunga mimpi, yang jelas Zayyan senang, walaupun agak bertanya-tanya mengapa rasanya seperti dia benar-benar berada disana.
Dengan tangan yang saling bertaut, Zayyan menatap figur tegas sang adik yang sekarang tumbuh tinggi melebihinya. Tak ada percakapan, hanya bunyi sapaan daun-daun yang berguguran. Dan suara riak samar air yang mungkin digerakkan oleh angin.
" Dek. Kenapa kita gak pernah jalan-jalan lagi kayak gini di dunia nyata ? "
Zayyan menjadi pemecah keheningan pertama. Menanyakan hal yang belakangan ini mengusiknya. Jujur saja, Zayyan merindukan momen momen seperti ini bersama adiknya yang sudah jarang dilakukan.
Yang ditanya tersenyum kecil, " Karna kadang-kadang kita cuma bisa ketemu disini, kak "
" Disini ? Maksudnya ? "
Tidak ada jawaban, sang lawan bicara hanya tersenyum menampilkan taringnya yang akan selalu terlihat kala tersenyum. Tangan yang lebih tua kembali ditarik, melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti. Rasa aneh itu tentu saja masih Zayyan rasakan.
" Dek, kamu inget gak ? Dulu kita sering main ujan-ujanan di halaman sampe kamu masuk angin gara-gara itu "
Zayyan tidak suka keheningan.
" Iya, aku inget. Kakak marahin aku tapi abis itu kakak juga yang rawat aku "
" Ya iya, dong. Kakak kan kakak kamu "
Yang lebih muda tertawa kecil, tapi menyiratkan sesuatu yang tak bisa Zayyan pahami. Apalagi saat sang adik mulai memandangnya dengan tatapan yang begitu membebankan didada.