Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°
°
°
°
°
°
─┉┈◈◉◈┈┉
" Mereka yang tidak bicara, berbicara lewat luka sebagai bahasa. Bahasa yang sukar diterjemahkan dimana pun berada "
─┉┈◈◉◈┈┉
" Gamau, aku maunya bunga lily !"
" Tapi anyelir juga cantik, dek "
Anak kecil berusia tujuh tahun itu menggeleng kencang, teguh dengan pendiriannya terhadap bunga lily yang rata-rata sudah terjual habis di setiap toko yang dikunjungi.
" Tapi aku maunya bunga lily, kak ~ "
Zayyan menghela nafas mendengar rengekan adiknya, " Coba jelasin, kenapa kamu pengen banget bunga lily ? " titah Zayyan dengan sabar.
" Ibu bilang anyelir itu maknanya bisa dua, ada bahagia dan ada sedih, aku cuma mau bunga yang punya makna bagus "
Zayyan tersenyum mendengar penjelasan yang diutarakan sang adik, bangga sekali adiknya begitu pintar mempelajari bunga persis seperti mendiang ibunya, " Memang mau dikasih siapa bunganya ? "
" Kakak. Aku mau kakak terus bahagia tanpa duka, seperti bunga lily "
_
Zayyan terkesiap, lagi-lagi dirinya tertidur diatas meja, tapi kali ini bukan meja toko bunga melainkan meja makan kayu dirumahnya. Dan lagi-lagi, pipinya basah dengan air mata karena bermimpi. Aneh, kali ini nyeri dan sesak di dada juga terasa, rasanya seperti ada kepingan didalam hatinya yang dirampas hilang.
Jam di dinding kini sudah menunjukkan pukul 8 malam. Hujan dibalik jendela pun sekarang masih deras, mungkin saja bertambah karena suara gemuruh airnya terdengar begitu jelas.
Makanan yang sudah mendingin masih utuh tersaji diatas meja dan Sing belum kunjung pulang. Zayyan menunggu dengan risau sejak diantar pulang dokter Hyunsik sore tadi. Bicara soal dokter Hyunsik, dialah dokter yang selalu menangani terapinya di rumah sakit. Suatu hal yang cukup mengejutkan melihatnya datang ke toko dan membeli bunga.