Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°
°
°
°
°
° ─┉┈◈◉◈┈┉
Nyatanya, hidup dalam kenangan tidak jauh lebih baik dari kehilangan
─┉┈◈◉◈┈┉
Hujan—pagi ini pun kehadirannya masih mendominasi permukaan bumi. Langit kelabu menggantung rendah, hujan deras membasahi kaca mobil yang bergerak pelan diatas jalanan yang basah. Didalam mobil, Zayyan duduk di kursi belakang, diam membisu. Di sebelahnya, Lex—si tetangga baru yang dua hari lalu membawanya ke rumah sakit, juga terdiam. Didepan, dokter Hyunsik duduk dibalik kemudi, sesekali melirik Zayyan yang murung dari kaca spion.
Tidak ada yang berbicara. Hanya bunyi wiper mobil yang bergerak memberi irama ditengah keheningan. Hati Zayyan terasa hampa, seperti terseret kedalam lubang gelap yang tak berdasar.
Dua hari yang lalu, Zayyan akhirnya mengingat kebenaran sore kelam itu. Tentang Sing, tragedi itu, dan kenyataan pahit yang selama ini dirinya hindari.
" Zay, kalau kamu butuh sesuatu, jangan ragu bilang, ya ? "
Suara Lex yang pertama memecah keheningan. Lembut namun canggung. Lex sebenarnya tidak tahu harus berkata apa, tapi keheningan yang terlalu lama terasa lebih menyiksa.
Zayyan tidak menjawab. Dia hanya menatap keluar jendela, memperhatikan butir-butir hujan mengalir seperti air mata di kaca. Sesuatu didalam dirinya terasa remuk. Dadanya sesak, seakan ribuan batu menghimpitnya. Tapi air matanya tak keluar.
Mobil berhenti tepat didepan rumah Zayyan. Hyunsik mematikan mesin dan berbalik menghadap Zayyan dibelakang, " Kamu yakin mau masuk sendiri ? "
" Atau ke rumah aku aja, Zay ? " Lex ikut menimpali.
Zayyan menggeleng pelan kemudian menggerakkan tangannya perlahan,
" Terimakasih, tapi...aku masih mau sendiri "
Mau tidak mau, Hyunsik dan Lex mengangguk dengan ragu, " Kalau begitu, saya ada di rumah Lex, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya atau Lex, ya ? "
Anggukan Zayyan berikan, kemudian membuka pintu dan melangkah keluar. Hujan sudah mulai mereda, meninggalkan gerimis kecil dan dinginnya yang menusuk.
Dengan langkah berat, Zayyan mendekati pintu rumahnya, menggenggam kunci ditangannya yang gemetar. Sebagian dirinya merasa tidak siap dengan dingin yang akan menyambut ketika pintu didepannya saat ini terbuka. Tetapi, apa boleh buat.