_Draluna Time?_
Ini bukan hanya sekedar hidup di kehidupan baru tapi dengan tubuh yang berbeda. Berbeda? Apa yang berbeda?
~'•'~
Awalnya aku tak menyangka rasa ini akan jatuh padamu, ku pikir ini hanya pikiran ku, hanya sekedar kekaguman akan ketang...
Luna turun dengan buru-buru dari angkot, ia berjalan melewati jalan untuk kerumahnya, jalanan lumayan sepi, tidak seperti biasanya, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang dari belakang rumah tua. Rumah itu sudah lama ditinggalkan, mungkinkah ada penghuni baru?
Tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan orang lain, Luna segera melanjutkan perjalanan nya, tapi ia kembali mendengar teriakab samar seseorang. Demi apapun siapapun di belakang rumah itu, seperti nya dia membutuhkan pertolongan.
Luna bimbang antara pergi menolong orang itu atau terus berjalan dan tidak ikut campur dalam masalah apapun. Tapi dia hanyalah seorang Luna, dan kini dirinya berdiri di belakang rumah itu.
Betapa terkejutnya Luna melihat seorang siswa SMA yang sudah babak belur, seluruh wajahnya bersimbah darah. Luna menatap ngeri sebelum dirinya berlari ingin menghampiri pria itu. Tapi sebuah uluran tangan menghentikan nya.
"Mau ngapain lo?" tanya pria itu dengan wajah datar dan tatapan tajamnya.
"Lo?! Lo yang di lorong kan?!" ucap Luna ketika mengingat wajah pria yang mencengkram tangannya itu.
Wajah Mattheo semakin gelap, ia semakin mengencangkan cengkraman tangannya membuat Luna meringis kesakitan.
"Lo gila?!!"
"Diam!" bentaknya.
"Tidak ada satupun orang yang bakal tolongin dia, termaksud lo!" ucapnya lalu menarik Luna menjauh.
"Lepasin! Gila lo! Dia berdarah harus cepat ditolong!" berontak Luna.
Mattheo membuang tubuh Luna menjauh darinya, ia memasukkan kedua tangannya di saku celananya. "Gue paling nggak suka sama orang yang suka ikut campur. Mending sekarang lo pergi, sebelum gue berubah pikiran," ucap Mattheo.
"Lo pikir gue takut sama lo! Manusia gila! Orang udah berdarah gitu bukannya nolongin!" omel Luna.
Mattheo mendekat, mempersempit jarak diantara keduanya membuat Luna terdiam. "Lo nggak tahu siapa gue, gue nggak peduli cewe atau cowo, gue bisa habisin orang yang gue benci semau gue," ucap Mattheo tajam.
Mata mereka bertemu, Luna menatapnya dengan tajam begitu juga dengan Mattheo, "jahat, tahu nggak," ucap Luna.
Mattheo tersenyum smirk. "Jahat? Gue bukan jahat, lo bakal lihat ada kata yang jauh di atas kata 'jahat' kalau gue mau."
Mattheo menjauh darinya, wajah datar laki-laki itu memang sangat menakutkan, tapi Luna tidak ingin terlihat lemah sekarang. "Jadi mending sekarang lo pergi dari sini," ucapnya lalu berlalu pergi kembali ke belakang rumah tadi.
Luna mengepalkan tangannya ketika pria itu menghilang di balik rumah, dengan keberanian ia akan melangkah menyusul pria sombong tadi.
Saat ia akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba sebuah tangan mengulur menggenggam tangannya, menghentikan langkah gadis itu.
"Kau kemana lo?" tanya Draco dengan wajah datar.
"Ngapain si lo ngikutin gue?!!" amarah Luna meledak.
Draco sama sekali tidak kaget melihatnya begitu, malah wajah putih pucat itu semakin gelap dan datar, genggaman tangannya mengerat. "Kalau bukan karena janji gue, gue nggak sudi repot-repot!" ucapnya lalu menarik Luna dengan kasar menuju mobil hitamnya yang terparkir di pinggir jalan.
***
"Aduh, mommy kemana sih? Dari tadi gue nunggu nggak datang-datang. Haduh! Ni ponsel pake acara lowbat lagi, mana dompet juga nggak bawah! Sial banget deh gue hari ini," gerutu Ginny sambil mengacak-acak rambutnya dengan campuran emosi dan frustasi.
Ginny mendongak kan kepala nya, hari semakin sore, jika dia terus disini, bisa-bisa dia mati kelaparan karena belum makan. Dengan putus asah, Ginny akhirnya memutuskan untuk berjalan pulang.
Sepanjang perjalanan gadis itu hanya terus mendumel, "udah capek-capek di sekolah, nggak bawa duit, sekarang harus jalan kaki. Kalau tahu gini mending dulu sama papi aja gue di London. Malas banget disini!" gerutu nya.
Sebuah mobil hitam tiba-tiba mendekat dan berhenti di dekatnya, saat kaca mobil terbuka senyum sinis Theo terpampang jelas mengejek Ginny.
"Heh! Miskin, kasihan banget jalan kaki, mana masih pake baju sekolah, nggak pulang lo?!" tanya Theo.
Dengan tatapan sinis, Ginny menoleh ke arah Theo, "heh! Cowo rese! Ngapain lo disini?!! Kalau mau jalan, jalan aja sana, nggak usah rese lo sama kehidupan gue," ucap Ginny.
Theo terkekeh, "yah suka-suka gue dong."
Ginny memutar matanya kesal, lalu melangkah pergi, melihat itu Theo menjalankan mobilnya perlahan mengikuti Ginny.
"Karena hari ini gue lagi baik hati, sini gue anterin," tawar Theo.
"Ih! Ogah yah, nggak sudi gue, pergi jauh-jauh Lo dari kehidupan gue."
Melihat sikap keras kepala nya Ginny membuat Theo nenggeram kesal. Theo mematikan mesin mobilnya lalu turun dan mendekati Ginny.
Theo menggenggam tangan Ginny lalu memutar tubuh gadis itu untuk menghadap ke arahnya. "Lo jadi cewe keras kepala banget yah! Dulu ibu lo ngidam apaan sih punya anak keras kepala gini," ucap Theo.
Ginny menghempaskan tangan Theo. "Dengerin yah, mau ibu gue ngidam empedu kek, tongkol kek, padi kek! Itu bukan urusan lo! Mending sekarang lo pergi karena gue nggak..."
"EHHHH, FUCK, WOY LEPASIN GUE!" teriak Ginny ketika Theo dengan tanpa aba-aba langsung menggendong tubuhnya seperti karung beras membawanya masuk ke dalam mobil.
Huaaaa, Allo uppp lagii niiii, jangan lupa bintang nyaaa😗🫴
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.