13

69 8 0
                                        

Mobil hitam Draco terparkir sejak tadi di halaman rumah Luna. "Lo nggak mau pulang?" tanya Luna dengan malas memperhatikan Draco yang duduk di hadapannya.

"LUNA, TAMUNYA JANGAN DISURUH PULANG GITU, NGGAK SOPAN!" teriak ibu Luna.

Draco tersenyum penuh kemenangan. "Lo dengar? Makanya jadi orang harus punya sopan santun," ucap Draco lalu menjitak jidat Luna.

"Aw! Ngeselin lo kak!"

"Ayah pulang!" ucap ayah Luna sambil melangkah masuk membawa beberapa tas belanjaan yang dititipkan oleh ibu Luna.

Tatapan ayah Luna berhenti di Draco yang dengan tenang duduk di sofa. "Oh, kamu masih di sini? Lagi belajar bareng Luna yah? Yang rajina yah belajar nya, ayah ke belakang dulu," ucap ayah Luna sambil menepuk kepala Luna pelan.

"IH AYAH! NGGAK ADA YANG BELAJAR DISINI!" ucap Luna.

"Apa lo lihat-lihat?!" kini Luna menatap Draco dengan sinis.

"Udah sana, pulang, rumah nggak gue terima tamu lama-lama."

"Siapa bilang, ini minum sama makan dulu kue buatan mama sama teh anget, segar banget pasti," ucap ibu Luna sambil membawa nampan berisi teh dan kue kering.

"Ih bunda, nggak usah, disuruh pulang aja ni anak, bikin repot aja," gerutu Luna.

"Luna, bunda tidak pernah mengajarkan Luna menjadi gadis yang egois, lagi pula nak Draco ini kan teman kamu, harusnya kamu senang dia main-main kesini, tadi juga kamu pulang bareng dia kan? Jadi harusnya kamu berterima kasih, sayang," nasehat ibu Luna.

Ayah Luna yang datang dari dapur mengangguk setuju sambil melingkarkan lengannya di pinggang ibu Luna. "Betul kata bunda, Luna nggak boleh gitu yah, mungkin ada sesuatu yang nak Draco ingin sampaikan?" tanya ayah Luna yang kini menatap Draco.

Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya, "jadi dari tadi saya nungguin om pulang untuk minta izin," ucap Draco.

"Izin? Kalau boleh tahu izin apa yah?"

"Saya mau Luna jadi guru privat bahasa Indonesia saya. Saya lihat dia masuk ke ekskul bahasa jadi saya sangat berterima kasih kalau dia bisa membantu saya," ucap Draco dengan santai membuat Luna melongo di tempat duduknya.

Tidak, pria ini pasti sedang bercanda. Siapa yang ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengannya? Bertemu beberapa saat saja sudah membuat nya dalam masalah dan sekarang? Mengajarinya? Tidak!.

Ayah Luna melirik ibu Luna yang sudah tersenyum. Ia mengangguk kan kepala nya. "Yah tentu saja, nanti bisa sering-sering datang kemari, Luna itu suka banget sama bahasa, dia juga suka nulis cerita," ucap ayah Luna.

"Ih ayah! Nggak usah ngomongin itu, ih!"

"Loh kenapa? Kan nanti kamu bakal sering belajar sama nak Draco, jadi biar dia juga tahu kemampuan kamu."

"Yang mau ngajarin dia siapa sih?!! Nggak ah!" ucap Luna lalu berlalu pergi ke kamarnya dengan kesal.

"Maafkan Luna yah nak Draco, nanti kami bakal bujuk dia. Luna itu sebenarnya gadis baik, jadi dia pasti mau untuk membantu orang," ucap ibu Luna. Draco hanya menanggapi ucapan itu dengan anggukan.

***

"Heh! Laki-laki gila yah lo!! Turunin gue sekarang!" bentak Ginny.

"Turunin? Nggak bakal, gue bakal bawa lo muter-muter terus sampai lo kasih tahu dimana alamat rumah lo," ucap Theo sambil tersenyum nakal.

"Rese banget si lo, so annoying!" ucap Ginny memutarkan matanya kesal.

"Jadi, lo milih terus muter-muter sama gue atau kasih tahu alamat rumah lo sekarang sama gue?"

In Another Body Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang