11

70 7 0
                                        

Suara pukulan terus bergema di udara, tapi pria berambut cokelat itu tidak ingin berhenti walaupun darah lawannya sudah membasahi tangannya yang mengepal.

Pria itu tersenyum keji menatap wajah yang penuh dengan darah di bawahnya. "Lo harus tahu tempat yang sesuai buat orang kayak lo. Orang miskin kayak lo pantasnya ada di bawah!" ucapnya lalu memukul untuk terakhir kalinya dengan pukulan yang lebih kuat.

***

"Lun, dengar-dengar lu ikutan ekskul sastra yah?" tanya Ginny.

Keduanya kini tengah menunggu jemputan di halte bus depan sekolah. Luna beralih dari buku yang tengah ia baca untuk menatap Ginny.

"Iya,emang kenapa?" tanya Luna.

"Enggak, cuman nanya aja, ternyata lo sesuka itu sama nulis."

"Kalau lo ikut ekskul apa?" tanya Luna.

"Karate."

Luna mengangguk paham, ia sangat tahu sahabatnya ini, Ginny si wanita tangguh, "kalau Cho ngambil ekskul apaan dah?"

"Kalau nggak salah sih, cheerleade."

Ginny mengangguk, gue lihat-lihat dia makin dekat banget sama kakel kita" ucap Ginny.

"Siapa?" tanya Luna penasaran.

"Itu si..."

Belum juga Ginny menyelesaikan ucapannya tiba-tiba sebuah motor yang melaju kencang membuat air genangan di jalan terciprat ke arah keduanya membuat seragam mereka basah dan kotor.

"WOY! SINTING YAH!" teriak Ginny kesal.

Luna membersihkan seragam nya dengan sedikit gerutuan. "Ngapain lo berdua?" mobil yang baru berhenti di hadapan mereka memperlihatkan seorang pria berambut pirang ketika kaca jendela perlahan menurun.

"Menurut lo?" tanya Ginny kesal.

Luna memutar matanya ketika melihat pria yang ada di hadapannya. "Lo ikut gue, bokap lo nggak bisa jemput, jadi lo pulang bareng gue," ucap Draco.

"Ngaco! Nggak ada yah, sahabat gue nggak boleh pulang sama lo," ucap Ginny yang langsung berdiri di hadapan Luna.

Dengan malas Draco mengambil ponselnya lalu memutar sebuah rekaman, itu adalah ayah Luna.

"Luna sayang, nanti kamu tolong pulang bersama nak Draco yah, mobil ayah bannya kempes jadi ayah nggak bisa jemput kamu."

Kira-kira begitulah isi pesan vidio itu. Ginny sedikit bergeser untuk menatap Luna, meskipun sempat terdiam Luna akhirnya mengambil tasnya.

Untuk pulang bersama Draco? Salah! Dia malah memberhentikan sebuah angkot yang lewat lalu naik.

"Eh! LUN!" teriak Ginny ketika angkot mulai melaju pergi.

"Dasar cewe keras kepala," gumam Draco lalu melajukan mobilnya mengikuti angkot tadi.

Ginny yang ditinggal sendirian pun hanya bisa menggerutu kesal. "Tu dua orang yah, mereka yang punya masalah malah gue yang ditinggal!"

In Another Body Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang