15

74 8 0
                                        

Keesokan harinya, Luna melangkah dengan lesu ke sepanjang lorong. "Good morning, my sunshine. Indah banget yah hari ini, wangi-wangi kebahagiaan tuh kayak kecium banget," ucap Cho yang kini berjalan di samping Luna.

Luna hanya memutar matanya,"mending lo diam deh, Cho. Lagi nggak mood gue," ucap Luna pelan.

"Lah? Kenapa sih? Masih pagi juga."

"Yah itu lo nggak tahu kan, kalau kemaren...."

"WOY CEWE GILA!" langkah kaki bergema di sepanjang lorong, memperlihatkan dua orang siswa tengah berlari.

"AWAS LO YAH!"

"Eh, itu si Ginny sama ka Theo," ucap Cho.

Luna memperhatikan dua orang ituyang kini berlari menjauh dari mereka, saat seorang siswi lewat Luna menghentikan nya. "Eh, itu ada masalah apa?" tanya Luna.

"Oh itu, si Ginny nyoret-nyoret mobilnya KA Theo," jelas siswi itu.

Luna mengangguk melepaskan tangan gadis itu yang kemudian melangkah pergi. "Si Ginny ni emang suka nyari gara-gara mulu, heran," ucap Cho.

"Nggak juga, kita kan nggak tahu masalah yang sebenarnya terjadi sama mereka, lo juga harus ingat, geng rusuh itu juga suka bikin gara-gara di sekolah ini," ucap Luna.

"Iya deh, iya, ya udah yuk ke kelas," ucap Cho, keduanya kini melangkah menuju kelas.

***

"Masalah apalagi di Theo sama tu cewe?" tanya Draco.

"Masalah pribadi," jawab Enzo singkat, perhatian nya masih terfokus pada layar ponselnya yang miring, dirinya tengah memainkan game online kesukaan nya.

Draco menatap sinis ke arahnya, lalu kini beralih ke arah Luna dan Cho yang tengah berjalan menuju kelas, tanpa memperdulikan Enzo, Draco melangkah menuju keduanya.

"Eh, lah?! DRAC!" panggil Enzo tapi tidak di hiraukan oleh Draco yang kini sudah semakin jauh.

"Berhenti," ucap Draco sambil menarik tangan Luna.

Gadis itu berhenti lalu melirik nya dengan tajam, "Nggak usah pegang-pegang, lepasin!"

"Mau kemana?"

"Kelas! Kepo banget sih lo jadi orang," ucap Luna kesal.

"Gimana soal kemaren?" tanya Draco, masih terus menggenggam tangan gadis itu.

Luna melirik Cho sebentar, Cho yang merasakan sensasi aneh itu langsung pamit. "Hm, gue duluan ke kelas yah, Lun," ucap Cho yang langsung berlari kecil pergi.

"Ngapain sih bawa masalah itu ke sekolah, nggak banget," ucap Luna.

"Lo nggak kasih tahu teman-teman lo? Kenapa kelihatan takut banget kalau mereka tahu soal les privat gue sama lo," ucap Draco.

"Dih, ge'er banget lo jadi orang, ngapain juga gue kasih tahu mereka, nggak penting juga," ucap Luna.

"Soal kemaren, yah udah, gue bakal bantu lo belajar, tapi ingat lo nggak boleh ngelawan pas gue ajak buat belajar, nggak boleh nolak yah, awas aja lo."

Dengan perlahan Draco melepaskan genggaman tangannya, "thanks," ucap Draco pelan.

"Kalau hari ini lo ada jadwal nggak? Kalau nggak kita belajar mulai hari ini aja," ucap Draco, Luna mengangguk.

"Iya, gue nggak ada jadwal si hari ini, yah udah nanti lo aja yang nentuin dimana sama jam berapa, oke?"

Draco mengangguk, "kalau gitu gue ke kelas dulu, bye!" ucap Luna lalu berlari pergi.

Draco hanya menatap punggung gadis itu saat dirinya mulai hilang di lorong.

***

"Berhenti gue bilang! lo jadi cewek keras kepala banget!" ucap Theo sambil menarik tangan Ginny dengan kuat.

"Lepasin! Dasar cowo rese!"

"Lo cewe gila! Itu balasan buat kemarin, lo pikir gue bakal biarin lo gitu aja setelah kejadian kemarin?! Nggak yah!"

"Yah kejadian kemarin juga terjadi karena ulah lo duluan yah, setan!"

"Anjing lo! Lo duluan yang halangin antrian, kalau lo nggak ngelawan, gue juga nggak bakal repot-repot ngurusin cewe murahan kaya lo!"

Plak

Satu tamparan mendarat di pipi Theo. "Anjing, berani lo sama gue!" ucap Theo sambil semakin mendekat.

"Cewe tu Theo, cantik gitu di anjing-anjingin," ucap Enzo yang tiba-tiba muncul.

Tatapan keduanya beralih padanya. "Fuck," umpat Theo, ia melepaskan genggaman tangannya pada Ginny lalu menegakkan tubuhnya dan menatap Enzo.

"Ngapain lo disini?" tanya Theo dengan sinis.

"Jalan-jalan, kalian berdua ngapain? Mau buat yang aneh-aneh yah? Gue aduin Bu Ani yah!"

"IBU, SI THEO MAU BUAT MESUM NI BU!" teriak Enzo sambil berjalan pergi.

Theo menggenggam erat tangannya melihat tingkah Enzo. "Urusan kita belum selesai yah, awas lo nanti," ucap Theo lalu berlari pergi mengejar Enzo.

"Cowo brengsek! Dia pikir gue takut apa sama dia."

***

Bel istirahat yang berbunyi membuat banyak kebahagian bagi anak-anak, mereka semua berlarian ke luar kelas, ada yang pergi ke kantin, kamar mandi, dan sebagainya.

Di kantin, Luna, Cho dan Ginny duduk bersama-sama sambil memakan makanan pesanan mereka. "Lo kenapa sama ka Theo?" tanya Cho pada Ginny.

Ginny mengangkat bahunya acuh. "Nggak tahu, nggak jelas dia, emang cowo gila dia," ucap Ginny.

Luna fokus memakan makanannya hingga sebuah tangan mendarat di mejanya dengan perlahan. Lunam mendongakkan kepalanya menatap pemilik tangan itu.

"Mini cafe, empat sore, gue jemput, nggak penolakan," ucap Draco lalu melangkah pergi, kembali ke meja teman-temannya.

"Ciee, ada yang mau dating nih," ucap Cho.

Hayoooo, bab baruuu, cieee yang bakal belajar berduaan....🤭🫵

Jangan lupa vote nyaaa, gimana-gimana kalian suka nggak sama cerita nya?

Makasih yah yang udah setia baca, luppp banget dah pokoknya, ditunggu part-part berikutnya yahhh...👋

Semangat juga buat yang lagi ujiannn🔥

In Another Body Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang