16

145 12 1
                                        

Luna menatap dirinya di pantulan cermin, ia mengenakan sweater dan rok hitam yang membuat dirinya terlihat sangat menawan. Luna menyelipkan sehelai rambutnya ke belakang telinga sebelum akhirnya memaksakan senyumnya.

"Ayo Lun, kamu pasti bisa, cuman satu jam setelah itu lo bebas," gumam Luna menyemangati dirinya sendiri.

"LUNA, DRACO UDAH DATANG INI, AYO CEPAT TURUN!" teriak ibu Luna.

Mendengar itu, Luna meraih tas sampingnya lalu segera melangkah keluar kamar. Saat ia sampai di anak tangga terakhir, pandangan nya langsung tertuju pada Draco yang tengah duduk di sofa sambil menyeruput teh yang dibuat oleh ibunya.

"Ayo berangkat," ucap Luna.

Draco mengangguk lalu keduanya berpamitan pada ibu Luna, setelah itu keduanya menaiki mobil yang kini melaju ke Mini cafe.

Sesampainya disana keduanya masuk lalu duduk di salah satu bangku di dekat jendela. Luna mulai mengeluarkan buku-buku dari tasnya.

Draco hanya menatap dengan dingin saat gadis itu melakukan aktivitas nya. "Kenapa diam? Ambil buku kamu cepetan," ucap Luna yang menyadari tatapan Draco.

"Lo nggak mau pesan..."

"Nggak, nggak usah, entar aja. Sekarang kita fokus belajar dulu yah," tolak Luna dengan cepat.

Draco mengangkat bahunya acuh, ia mengeluarkan satu buku tulis dan buku bahasa Indonesia miliknya.

"Jadi apa yang belum lu ngerti?" tanya Luna sambil menopang dagunya dengan satu tangan, tatapannya tertuju pada wajah laki-laki itu.

"Jelasin dari awal, lo jadi guru nggak becus banget, masa nggak ngerti cara ngajarin orang," ucap Draco dengan sinis.

"Heh! Gue cuman nanya yah! Lo malah nyolot gitu, yah udah buka bukunya cepetan," ucap Luna.

Mendengar ucapan Luna yang terlihat kesal dengan cepat Draco meraih bukunya lalu membuka pada halaman pertama.

Luna mulai mengajari Draco perlahan lahan dengan materi-materi yang ada di buku itu. Keduanya terlihat sangat serius, tapi percayalah Draco sebenarnya sangat muak berada di situasi seperti ini.

"Why does this feel so boring?" gumam Draco sambil mengerjakan beberapa soal yang di berikan oleh Luna.

Luna meliriknya dengan tajam, "udah nggak usah banyak ngeluh, kerjain aja, kalau udah kasih tahu," ucap Luna lalu kembali fokus membaca buku nya.

***

"OMG, Ginny ngapain sih kita ke sini? Lo mau neraktirin gue?" tanya Cho.

"Bego, udah lo diam aja, gue ajak lo kesini karena itu!" ucap Ginny sambil mengarahkan kepala Cho ke arah tempat Draco dan Luna tengah duduk.

"Om my... Mereka beneran pacaran?" ucap Cho dengan terkejut.

"Yah nggak tahu, makanya gue ajak lo kesini buat mastiin mereka itu beneran pacaran atau nggak," ucap Ginny.

Disisi lain dari cafe juga terdapat dua orang pria yang tengah duduk santai sambil memegang majalah dan koran.

"Lo ngapain sih bawa koran ke sini?!" tanya Theo dengan kesal.

"Ye, suka-suka gue lah, yang penting kan kita nggak ketahuan sama Draco, kalau nggak bisa berabe," ucap Enzo lalu kembali melirik kedua orang yang tengah duduk bersama itu.

"Mereka beneran pacaran kah?" tanya Enzo.

"Mana gue tahu, yang pastinya jangan sampe deh," ucap Theo.

Enzo melirik ke arah pria yang masih terus menatap tajam ke arah keduanya. "Kenapa? Emang salah?" tanya Enzo.

"Udah diem lo! Nggak usah banyak ngomong, entar ketahuan bisa mati kita sama Draco.

***

Karena menunggu Draco yang terlalu lama mengerjakan tugas Luna berdiri lalu melangkah mendekati hiasan bunga di cafe itu. "Wow, indah banget kalian," ucapnya sembari mengelus-elus beberapa bunga.

Draco yang sadar dengan tingkah Luna terdiam beberapa detik sebelum mengambil ponselnya, ia mengarahkan ke arah gadis itu.

"Ngapain lo?!!" tanya Luna yang melihat tindakan Draco.

Gadis itu dengan cepat melangkah ke arah Draco ingin mengambil ponsel itu. "Siniin nggak?!!" ucap Luna dengan kesal.

"Apaan sih lo nggak sopan banget?!" ucap Draco.

Luna berdiri dengan kesal melipat kedua tangannya di depan dada. "Lo yang nggak sopan! Ngambil foto orang sembarangan tanpa minta izin!"

"Emang lo tahu dari mana gue ngambil foto lo?" pertanyaan itu membuat Luna terdiam, tunggu dulu, dia memang tidak tahu pasti kan apa yang dilakukan Draco dengan ponselnya, perlahan ia kembali duduk.

"Yah udah, maaf," ucap Luna pelan.

Melihat itu Draco hanya terkekeh, lalu memberikan buku nya. "Makanya lain, kali nggak usah terlalu ge'er," ucapnya lalu kembali beralih menatap layar ponselnya.

Melihat itu Luna hanya mendumel pelan sambil memeriksa pekerjaan Draco. "Wow, mereka romantis banget!" ucap Cho.

"Romantis kepala bapak kau botak?! Mana ada romantis nya begitu! Yang ada Luna kelihatan tertekan."

"Tertekan gimana, jelas-jelas Draco senyum-senyum tadi," ucap Enzo.

"Blo'on banget sih, mereka itu nggak pacaran apaan pacaran gitu!" ucap Theo dengan kesal.

Draco menatap Luna sebentar, "lo kalau diem gitu cantik."
Luna mendongak mendengar ucapan Draco, walaupun ia merasa aneh tapi jujur saja dia sedikit salting mendengar ucapan itu.

"Jadi mending diam aja terus, dunia lebih tenang kalau nggak ada ocehan tuyul kek lo," lanjut Draco.

Upppp lagiiiiii, jangan lupa voteee😾

Gimana kabar kalian, semoga baik yahhh, jumpa lagi di next cerita yahhhh, byeee🫸🫷

In Another Body Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang