14

73 9 0
                                        

Malam ini hujan turun dengan deras membasahi kota, Luna duduk termenung di kamarnya, kenapa takdir selalu saja memaksanya untuk bertemu dengan pria seperti Draco?.

"Arggg! Kenapa sih dia selalu aja gangguin hidup gue?!!" ucap Luna dengan frustasi.

Pintu kamar di ketuk membuat Luna terdiam sekejap, saat pintu terbuka ayah Luna berdiri di sana dengan senyuman, pria itu melangkah masuk ke dalam kamar putrinya.

Duduk di tepi ranjang Luna, ayah Luna mengelus kepala putrinya. "Makan malam dulu yuk," ajak ayahnya.

Luna menggelengkan kepalanya. "Nggak yah, Luna belum lapar, ayah sama bunda makan duluan ajah," ucap Luna.

"Kok gitu? Luna masih marah soal nak Draco?"

Luna menganggukkan kepalanya pelan. "Maaf yah ayah, bukannya Luna nggaj mau berbuat baik, tapi Luna nggak mau berurusan sama dia. Hidung Luna selalu ajah sial kalau dekat sama dia."

"Tidak boleh seperti itu, Luna seharusnya bersyukur jika di berikan kepercayaan untuk menjadi seorang guru, membimbing seseorang agar menjadi lebih baik lagi. Luna nggak tahu kan seberapa pentingnya nilai bahasa Indonesia itu buat Draco? Kalau nilai itu tidak penting untuk dia, tidak mungkin dia rela-rela nungguin ayah sampai malam seperti tadi," nasehat ayah Luna.

Luna terdiam memikirkan ucapan ayahnya, mungkin bisa jadi ayahnya benar? Tapi untuk mempercayai seorang Draco? Luna masih sangat ragu dalam kepala nya, tapi hatinya berkata sebaliknya.

"Yah udah deh yah, nanti Luna pikir-pikir lagi," ucap Luna perlahan.

"Itu baru anak ayah, sekarang kita makan yah!" ucap ayah Luna lalu merangkul putrinya itu, Luna tersebut lalu melangkah keluar kamar mengikuti ayahnya menuju dapur.

***

"Itu yah rumah kamu?" Cedric menunjukkan sebuah toko bangunan yang masih buka.

Cho mengangguk, "iya kak, makasih yah," ucap Cho yang akan melangkah keluar, tapi tangan Cedric dengan cepat menghentikan langkah nya.

"Tunggu sebentar, lagi hujan nggak mungkin kamu keluar, nanti basah."

Cedric meraih sebuah payung dari belakang lalu melangkah keluar, ia membukakan pintu mobil untuk Cho.

Cho tersenyum lalu meraih tangan Cedric, keduanya berjalan dengan cepat menuju toko milik Cho.

"Haya, lu olang baru pulang ah! Sudah malam begini! Sekalian tidak usah pulang!" omel papa Cho.

Pria dengan perawakan putih, postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, dengan mata sipit dan tidak lupa memegang kipas angin berwarna merah bergambar naga.

"Anak gadis, malam-malam begini baru pulang long, mau jadi apa kamu?"

"Maaf om..."

"Om, om, palak kau! Panggil baba! Kamu pikir saya ini om mu!" omel ayah Cho.

Cho hanya bisa menundukkan kepala nya, ia merasa malu dengan tingkah papa nya. "Pa udah pa," ucap Cho.

"Udah-udah apa? Kamu ini kalau saya kepret," ucapnya sambil mengayunkan kipas itu ke arah Cho lalu mengenai kepala gadis itu, membuat Cho meringis.

Cedric terkekeh melihat tingkah ayah dan anak dihadapan nya ini. "Kamu ketawain saya?!" tanya papa Cho.

Dengan cepat Cedric berhenti lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak om, eh maksudnya baba. Saya minta maaf yah kalau Cho sampai terlambat di rumah, ini semua kesalahan saya, jadi tadi saya minta bantuan Cho untuk mengajari saya kimia, dan saat akan pulang hujan turun," ucap Cedric mencoba menjelaskan pada papa Cho walaupun ai harus sedikit berbohong.

Papa Cho beraoh menatap Cho. "Lain kali, kalau mau ngajarin orang itu izin dulu sama papa, kalau terjadi sesuatu sama kamu macam mana long? Kamu pikir papa ini tidak khawatir? Sudah sekarang kamu masuk ke dalam, mandi, makan setelah itu langsung belajar dan tidur," ucap papa Cho.

Cho menganggukkan kepala nya lalu melambaikan tangan pada Cedric sambil tersenyum melangkah masuk. "Haya, anak muda, kelakuan macam setan! Pake acara dada-dada segala, sekalang juga kamu pulang long, sudah malam, tidak baik kalau keluyuran," ucap papa Cho.

Cedric menganggukkan kepala nya, sebelum pulang ia mencium telapak tangan papa Cho. "Saya pamit pulang dulu, baba," ucap Cedric.

"Ey! Lain kali tidak usah deketin anak saya lagi long, meymey sudah punya calon suami, olang China, kamu jangan merusak keturunan saya," ucap papa Cho.

***

Ginny meringkuk di bawah pohon besar seluruh tubuhnya basah kuyup karena hujan, "awas aja tu cowo rese, bakal gue balas lo, hacu!"

"Eh woy lo adek kelas!"

Ginny mengangkat kepala nya, sebuah mobil berhenti di hadapannya, dia tidak mengenali pria itu.

"Ini gue, temannya si Theo sama Draco, Enzo. Lo adik kelas gue kan? Ngapain disitu?" tanya Enzo.

Tadi si cowo brengsek, sekarang datang satu lagi yang sama seperti nya. "Suka-suka gue lah mau disini kek, di dalam got juga itu suka-suka gue!" ucap Ginny dengan kesal.

"Lo nggak mau pulang? Lo udah basah kuyup tuh, nanti bisa sakit," ucap Enzo.

"Nggak usah! Gue tahu lo sama teman lo itu sama aja! Paling ujung-ujungnya kalian bakal turunin gue di jalan lagi."

Enzo mengerutkan keningnya, teman? Jangan-jangan yang dimaksud gadis ini adalah Theo, tunggu, apakah Theo membiarkan gadis malang ini di jalan?.

"Udah nggak usah takut, gue nggak tega juga ngeliat lo kek begitu," ucap Enzo.

Ginny masih diam, memperhatikan pria itu, ia melihat apakah pria itu bersungguh-sungguh atau tidak, dan akhirnya ia memutuskan untuk ikut.

Benar-benar yeee si Theo ini, cocok deh temenan ama malpoy😤

Benar-benar yeee si Theo ini, cocok deh temenan ama malpoy😤

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Makasih yang udah baca sama vote, luppp yuuuu sekebonnn...

In Another Body Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang