Semua negara hidup dalam perdamaian, meski konflik tak akan pernah bisa sepenuhnya dihilangkan.
Hinata akhirnya menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin klan. Naruto juga telah menggantikan posisi Kakashi sebagai Hokage ke-7.
Namun, apa jadinya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketika Semesta Mulai Lelah Memberikan Dukungan
〰️〰️
Hinata terbangun dari tidur nyenyaknya di jam 9 pagi dengan tergopoh-gopoh menyiapkan diri. Sesaat setelah terbangun, ia cukup terkejut karena tidak pernah bangun tidur sesiang ini.
Ia juga sempat bertanya-tanya siapa yang memindahkannya ke dalam kamar. Apakah Neji yang melakukannya? Ataukah tanpa sadar ia berjalan sendiri ke kamar karena saking lelahnya?
Saat itu Hinata dapat mencium samar-samar aroma tobacco dan kayu manis yang memenuhi kamar pribadinya. Sempat membuatnya bertanya-tanya karena merasa familiar sekaligus asing dengan aroma tersebut.
Pemikiran-pemikiran itu tidak sampai lama menghantui isi kepalanya, konsentrasinya terbagi karena sesungguhnya, satu jam lagi Hinata memiliki kewajiban untuk menyambut kedatangan pemimpin klan Fuuma.
Klan Fuuma merupakan klan yang cukup besar dan kuat yang bermukim di Negara Padi (Ta no Kuni). Kedatangan mereka ke Konoha tak lain bertujuan untuk melakukan negosiasi dengan Hokage. Mereka berencana untuk mendiskusikan kerjasama dalam bidang keamanan, yaitu divisi kepolisian.
Karena jadwal Hokage yang padat, klan Fuuma mendapat kesempatan untuk melakukan pertemuan pukul 11 siang nanti. Sehingga dalam kondisi ini, pemimpin klan Hyuga ditugaskan sebagai penerima tamu yang bertujuan untuk beramah-tamah sekaligus mengulur waktu.
Beruntung Hinata tidak sampai terlambat. Kalau saja bangun lebih siang, dirinya akan memberikan kesan tidak profesional dan bisa membuat klan Fuuma beranggapan Konoha sangat buruk dalam segi pelayanan.
Beberapa jam kemudian, pertemuan dengan pemimpin klan Fuuma telah berakhir, mereka juga sudah diarahkan untuk menemui Hokage. Hari itu Hinata patut bersyukur dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Jamuan yang klan Hyuga suguhkan cukup membuat klan Fuuma terkesan. Mereka merasa disambut dengan baik. Selesai menjalankan kewajiban, Hinata kembali menenggelamkan diri ke dalam tugas-tugasnya di ruang kerja seperti biasa.
Hari sudah mulai sore saat Hinata mendengar suara pintu ruangannya digeser. Masih enggan menoleh, beranggapan bahwa pelayanlah yang masuk untuk membawakannya sesuatu.
"Yo."
Suara itu membuat Hinata tercekat, bahkan sebelum ia sempat menatap siapa yang menyapanya.
"Ho...hokage-sama?"
Hinata membelalak lalu sontak berdiri dari posisi duduknya. Sapaannya pun terdengar terbata-bata. Tidak pernah terbersit dalam benaknya, lelaki itu akan datang menemuinya. Bahkan untuk sekadar masalah pekerjaan.