Bagian 29

2.2K 202 130
                                        

Naruto ©️ Masashi Kishimoto
Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort, Slightly Comedy
Cerita ini hanya untuk hiburan, seluruh isi dari karya ini hanyalah karangan dan fiksi semata.
Happy Reading~

Anjing Penjaga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Anjing Penjaga



Sakura telah selesai memeriksa Naruto yang sekarang tengah berbaring di atas ranjang. Keringat dingin membasahi kening, ia gemetaran menahan rasa dingin saat suhu tubuhnya mencapai 39 derajat celsius.

"Kau hanya demam, bisa saja karena kelelahan bekerja." Ungkap wanita berambut pink yang sedang meletakkan kembali peralatan medis ke dalam tas yang dibawanya.

Sakura sempat terkejut saat Natsu datang mencarinya dengan raut panik. Mengira bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada Hinata yang notabene puan Natsu di klan Hyuga. Namun rupanya, Naruto lah sumber rasa panik wanita Hyuga itu.

Lalu dengan buru-buru Sakura datang untuk memeriksa kesehatan sang Hokage. Saat di jalan, ia berpapasan dengan Shikamaru yang juga berniat untuk melihat kondisi Naruto.

Setelah melakukan anamnesa dan serangkaian pemeriksaan dengan menggunakan ninjutsu medis, Sakura lega karena tidak menemukan hal yang serius. Mengingatkannya kembali saat memeriksa Hinata tempo hari.

"Hanya demam? Kelelahan? Aku tidak bermaksud meragukan kemampuanmu, Sakura-chan. Sungguh. Tapi aku merasa seperti akan mati. Kepalaku pusing dan aku merasa sangat mual." Protes Naruto tampak kurang puas dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.

Sakura lagi-lagi memutar bola mata dengan jengah. Bahunya ikut turun setelah menghela napas lelah. Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi, Naruto mengalami sindrom cauvade. Saat seorang ayah dari janin mengalami gejala kehamilan yang seharusnya dirasakan oleh sang ibu janin.

Lidah Sakura sudah gatal ingin menyampaikan kebenaran ini. Namun sekali lagi demi menghargai ikatan persahabatannya dengan Hinata, Sakura tidak akan mengatakan apapun yang telah ia ketahui.

"Itu hanya efek demam, Naruto. Aku sudah memeriksa semuanya dan berkali-kali. Kau tidak apa-apa, hanya kelelahan dan butuh istirahat." Bohong Sakura sekali lagi.

Andai situasinya tidak seperti saat ini, mungkin Sakura sudah memukul Naruto dengan chanaro mematikan miliknya. Menuntut tanggung jawab pria itu atas apa yang dilakukannya pada Hinata.

Namun demikian, Sakura merasa Naruto cukup beruntung kali ini. Sedang sakit dan tampak menderita membuatnya tidak tega dan merasa iba.

"Benarkah? Apa itu benar?" Tuntut Naruto dengan mata berair.

Shikamaru yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dan melihat semuanya hanya bisa melipat tangan di depan dada. Lelaki itu geleng-geleng kepala saat mendapati sang Hokage begitu merepotkan saat sakit. Bahkan mulut Naruto tidak berhenti bicara bagai terompet setiap kali Sakura memeriksa.

The Hokage And I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang