Semua negara hidup dalam perdamaian, meski konflik tak akan pernah bisa sepenuhnya dihilangkan.
Hinata akhirnya menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin klan. Naruto juga telah menggantikan posisi Kakashi sebagai Hokage ke-7.
Namun, apa jadinya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gulungan Ombak di Hati Kita Berdua
Suara Naruto dan Iruka masih terdengar sayup-sayup dari ruang tengah. Kepergian mereka berdua dari kamar utama milik sang Hokage meninggalkan Hinata yang masih duduk tenang di tepi ranjang, menghadap jendela dan menatap nanar keluar. Sementara Natsu yang tetap berdiri di sudut ruangan hanya bertugas untuk menjaga dan telah terbiasa menulikan pendengaran.
Kakashi yang juga berada di dalam ruangan itu mendekat, lalu berdiri di dekat jendela dan menatap pemandangan yang sama. Ekspresinya yang selalu disembunyikan di bawah masker, selalu sulit diterka. Namun, pria itu tidak akan mengelabui diri sendiri bahwa sedang merasa khawatir sekarang.
Sang rokudaime Hokage masih tidak menyangka jika langkahnya untuk pensiun lebih dari setahun yang lalu akan membawa Konohagakure ke dalam situasi yang cukup sulit. Dia tidak menyalahkan Naruto, namun sedang menyalahkan diri sendiri.
Andai saja Kakashi lebih cepat menyadari perasaan murid-muridnya dan hubungan mereka berdua, dia akan membujuk Naruto untuk segera menikahi Hinata sebelum mengangkatnya menjadi Hokage.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada jalan kembali, tidak ada jalan lain selain menghadapi ini semua. Pertentangan hubungan Hokage dan pemimpin klan Hyuga, Kakashi menyesal hal ini luput menjadi perhatiannya.
Ia merasa meletakkan Naruto ke dalam situasi yang rumit perkara membangun keluarga yang selama ini diimpikan muridnya itu, padahal menjadi Hokage sudah sangat menguras tenaga dan pikiran. Kakashi yakin jika Naruto mudah mengeluh, kepalanya sudah meledak karena terlalu banyak berpikir.
Namun ia sedikit merasa bersyukur karena Hinata tidak membiarkan itu terjadi meski posisi perempuan itu sama rumitnya dengan Naruto.
"Pemintaanmu tempo lalu, sepertinya bekerja dengan tepat. Bisakah kuanggap hutangku sudah lunas sekarang?" Ujar Kakashi dengan suara rendah.
Masih lekat dalam ingatannya saat itu, di suatu siang yang begitu damai untuk bermain shogi bersama Guy, seorang pemimpin klan Hyuga mendatanginya. Yang mau tidak mau memaksa Guy untuk menyerah di tengah permainan dan menjauhkan diri dari perbincangan serius antara mantan Hokage dan pemimpin klan.
Di hari itu, Hinata menagih sesuatu dari Kakashi. Sebuah hadiah memenangkan kompetisi sesaat sebelum Naruto diangkat menjadi Hokage, yang selama ini terus ditunda, akhirnya tiba saat Hinata meminta.
"Terima kasih atas bantuannya Sensei, tapi semuanya belum berakhir."
"Hmmmm."
Jawaban Hinata membuat Kakashi menghela napas lelah. Permintaan Hinata memang hanya satu namun tidak mudah dilakukan meski Kakashi mampu mengabulkannya.