Semua negara hidup dalam perdamaian, meski konflik tak akan pernah bisa sepenuhnya dihilangkan.
Hinata akhirnya menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin klan. Naruto juga telah menggantikan posisi Kakashi sebagai Hokage ke-7.
Namun, apa jadinya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Antara Hati dan Janji yang Tergenggam 🔞
Di tengah hujan yang turun dan tangis yang tidak terbendung, Hinata dapat melihat samar Naruto yang melangkah menuju ke arahnya. Hatinya telah lama bergejolak, ia selalu berhasil meredamnya selama ini. Namun sepertinya, hari ini emosinya meluap dan sudah tidak dapat ia tampung lagi.
Diamnya Naruto mendorong Hinata untuk terus bicara. Tidak peduli apakah itu akan menyakitinya atau justru membuatnya lega setelah ini. Ia tidak mengharapkan apapun, bahkan tidak peduli apa yang akan dilakukan oleh pria itu.
Namun tak pernah terbersit dalam bayangannya, bahwa jarak mereka yang semakin terkikis, membuat Naruto begitu berani membungkamnya dengan sebuah ciuman.
Ciuman itu tidak dapat Hinata sebut menyenangkan. Tidak peduli betapa lembut pria itu menariknya dalam sebuah rengkuhan, menangkup wajahnya lalu menautkan bibir mereka. Tidak peduli betapa berusahanya lelaki itu karena harus membungkuk beberapa senti untuk dapat menjangkaunya.
Berbeda saat Toneri melakukannya, seakan tubuhnya tak pernah mengijinkan. Emosinya justru meradang dan diliputi oleh amarah hingga mampu melayangkan sebuah tamparan. Namun kali ini, Hinata amat terkejut dengan respon tubuhnya sendiri.
Ia justru memejamkan mata. Seolah tidak mengindahkan air mata yang masih terus membanjiri pipinya, tidak peduli betapa pedih hatinya, seakan tubuhnya menjadi lemah dan menurut begitu saja. Beberapa detik bagaikan emas yang berharga, meski pikirannya terus bertarung dengan hatinya.
Hinata meremas kimono Naruto di bagian dada, berusaha menyadarkan diri sendiri enggan terlena. Ia berusaha mengatupkan bibirnya untuk mengakhiri ciuman tersebut. Namun usahanya malah berujung melukai bibir Naruto dengan sebuah gigitan yang dalam. Ciuman mereka pun berakhir, Hinata mendorong Naruto menjauh dengan sekuat tenaga.
"Apa yang Naruto-kun lakukan?!" Erangnya yang masih berderai air mata.
Hujan sedikit mereda meski geluduk masih sesekali terdengar. Hinata dapat melihat bahwa bibir Naruto terluka bahkan berdarah karena gigitannya yang tanpa sengaja. Sesaat ia menyesali hal tersebut dan reflek mengangkat tangannya.
Namun Naruto memalingkan muka bermaksud menghindar. Pria itu terlihat tidak peduli dengan luka tersebut, tidak juga terlihat kesakitan. Lalu dia bermaksud menjawab pertanyaan Hinata dengan sebuah pertanyaan lainnya.
"Apa itu masih belum cukup menjawab semua pertanyaanmu?"
Naruto bertanya sembari menatap mata ametis Hinata dalam-dalam, berharap dapat membaca pikiran perempuan di hadapannya tersebut. Meski tahu hal itu mustahil, ia benar-benar berharap bisa membacanya.