Semua negara hidup dalam perdamaian, meski konflik tak akan pernah bisa sepenuhnya dihilangkan.
Hinata akhirnya menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin klan. Naruto juga telah menggantikan posisi Kakashi sebagai Hokage ke-7.
Namun, apa jadinya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagai Sepasang Burung Bangau yang Menari 🔞🔞🔞
Hinata tidak bisa mengingat dengan jelas bagaimana Naruto menariknya mendekat, lalu tiba-tiba berada di atas tubuhnya. Ia tidak mengingat dengan jelas bagaimana pria itu menatapnya seolah meminta persetujuan.
Yang Hinata ingat adalah saat bibir Naruto tiba-tiba menyapu bibirnya dengan lembut. Lantas Hinata memilih memejam menikmati sensasi asing yang tidak sama memabukkannya dengan seteko atsukan.
Dirinya sempat berpikir bahwa pria itu sedang mabuk, sehingga bermaksud akan meladeninya hanya sampai ciuman berakhir. Namun sepertinya, Naruto terlalu waras untuk dikatakan demikian, karena mata pria itu masih sama cemerlangnya saat tanpa minuman beralkohol.
Hinata sempat menunggu dan menunggu, namun ciuman Naruto membuatnya jauh dari kata berhenti, menjadikannya hilang akal sampai tidak tahu lagi menahan gejolak gairah yang mulai membubung tinggi.
Kecupan lembut yang berubah menjadi sebuah lumatan yang panjang. Lantas tidak hanya bibir yang saling bertemu, namun juga lidah yang kini mulai beradu. Masih sama pelannya dengan sesaat lalu, sama lembutnya dan terasa begitu basah. Basah yang menyenangkan, sama-sama menggairahkan.
Keduanya tidak tahu sudah berapa lama saling memagut, namun ciuman itu akhirnya berhenti setelah masing-masing merasa kesulitan bernapas. Seakan pasokan oksigen di tubuh mereka menjadi tidak cukup untuk sekadar melanjutkan.
Naruto bangkit, lalu menumpu pada kedua lutut untuk melepas kimono yang melekat di badannya. Tatapan pria itu tak terlepas dari sosok di bawahnya, tak ingin lepas barang sejenak saja.
Bunyi berisik hujan angin dan guntur malam itu tak menyurutkan nyali keduanya. Meski listrik menjadi padam dan penerangan hanya dibatasi oleh keremangan cahaya perapian yang menyala. Dingin menjadi suasana yang memabukkan untuk dilewatkan begitu saja, apalagi saat berdua dengan sosok pujaan yang telah lama didamba.
Naruto kembali mengecup bibir Hinata setelah memastikan dirinya bertelanjang dada. Kali ini hanya sebentar karena kecupan itu tak berhenti hanya di sana. Naruto mengecup pipi tembam yang begitu kontras dengan kulitnya. Kecupan-kecupan kecil yang mampu membuat Hinata tertawa karena geli.
Lalu, pria itu menelusuri tengkuk Hinata dengan hidung dan bibirnya. Menghirup setiap aroma yang bisa ia tangkap, membuat napasnya kian memburu digelayut hasrat yang sudah pasti tidak akan mereda.