Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Arbani tersenyum puas karena setidaknya berhasil mencairkan sedikit kecanggungan di antara mereka. Meskipun tanggapan Azkina singkat, Arbani merasa senang bisa memulai percakapan kecil yang tidak sepenuhnya diabaikan. Suasana di dalam bus pun terasa lebih ringan, meskipun keduanya kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Arbani meneruskan membaca catatannya, sementara Azkina menikmati musiknya, sesekali melirik keluar jendela, mengamati pemandangan pagi yang berlalu.
Suasana di dalam bus terus berjalan dengan tenang, seiring dengan perjalanan yang semakin dekat dengan sekolah. Meski keduanya kembali tenggelam dalam dunia mereka masing-masing, ada rasa nyaman yang mulai tumbuh di antara mereka. Arbani masih sesekali melirik ke arah Azkina, namun kini lebih santai, tanpa rasa canggung yang sebelumnya ada. Azkina, meskipun tampak fokus pada musik, sesekali tersenyum tipis, entah karena lagu yang didengarnya atau karena percakapan singkat mereka yang tak lagi terasa aneh.
Bus semakin mendekati halte tujuan mereka, dan meskipun tak banyak percakapan, keduanya merasa lebih lega, seperti ada perubahan kecil yang membuat pagi itu terasa sedikit lebih baik.
Akhirnya, bus sampai di halte terdekat dengan sekolah. Beberapa penumpang mulai bersiap-siap untuk turun, termasuk Azkina dan Arbani. Azkina melepas earphone-nya, lalu merapikan tas di pangkuannya. Arbani juga menutup buku catatannya dan berdiri, siap turun.
" Yuk kita bareng masuk sekolahnya, kita kan sekelas" kata arbani
Azkina melirik Arbani sejenak, sedikit terkejut dengan ajakan tersebut. Setelah beberapa detik, ia mengangguk pelan. "Iya, ya. Kenapa enggak," jawabnya sambil merapikan tasnya.
Mereka berdua berjalan turun dari bus bersama, mengikuti aliran orang-orang yang juga turun di halte tersebut. Suasana pagi di sekitar sekolah mulai sibuk, dengan siswa-siswi yang berjalan menuju gerbang sekolah.
Azkina dan Arbani berjalan berdampingan, menyusuri trotoar menuju gerbang sekolah. Meskipun mereka tidak banyak bicara, ada rasa kedekatan yang mulai terjalin antara mereka. Suasana pagi yang sibuk tidak menghalangi langkah mereka yang santai.
"Lo sering naik bus pagi gini?" tanya Arbani sambil melirik Azkina, mencoba mengisi keheningan.
Azkina mengangguk, "Kadang-kadang, tergantung. Tapi biasanya gue bawa motor."
"Ah, jadi lo lebih sering bawa motor, ya?" Arbani melanjutkan, mencoba menggali lebih banyak.
"Iya, lebih nyaman kalau naik motor," jawab Azkina, sedikit tersenyum. "Tapi, kadang-kadang naik bus juga seru."
Arbani tersenyum, merasa percakapan semakin mengalir. "Iya, sih, bisa lihat pemandangan. Gue baru kali ini naik bus ke sekolah. Biasanya motoran."
Mereka terus berjalan menuju kelas mereka, merasakan perubahan kecil dalam suasana hati mereka, yang kini terasa lebih ringan dan nyaman. Mungkin hari itu, kedekatan yang baru mulai terjalin ini akan berkembang lebih jauh seiring waktu.
Azkina dan Arbani berjalan berdampingan, langkah mereka seirama. Meskipun tak banyak bicara, kehadiran satu sama lain terasa cukup. Ada kenyamanan dalam kebersamaan yang sederhana, yang perlahan membentuk sebuah ikatan yang tak terucapkan.
Sesekali, mereka bertukar pandang, namun lebih karena kebiasaan dan kenyamanan, bukan lagi karena rasa canggung. Suasana yang tadinya kaku kini menjadi lebih akrab, seperti dua teman yang saling mengenal dengan baik, meski perjalanan mereka baru dimulai.
Saat mereka sampai di depan kelas, Azkina mengangguk sedikit, "Sampai sini dulu, ya," katanya sambil melangkah masuk ke dalam ruang kelas. Arbani mengikutinya, tersenyum kecil, merasa puas dengan bagaimana hari itu berawal. Sepertinya, kedekatan yang tumbuh di antara mereka akan membawa mereka pada perjalanan yang menarik, baik sebagai teman maupun lebih dari itu.