Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mr. Haris berdiri di depan kelas, mengamati murid-muridnya yang sedang sibuk mencatat. Ia menunggu dengan sabar, memastikan semua murid sudah selesai menulis materi yang ada di papan tulis.
"Apakah sudah selesai, teman-teman?" tanyanya dengan nada lembut, namun tegas. "Saya akan hapus papan tulisnya setelah kalian selesai."
Mella berkata kepada Mr haris " belum Mr dikit lagi selesai "
Azkina berkata ke Mella " Lagian lo daritadi ngobrol terus sama grandy, bukannya nulis materi lebih dulu"
mendengar ucapan Azkina. "Iya, iya, Kina. Maaf, kebawa ngobrol," jawab Mella sambil sedikit terburu-buru menulis sisa materi yang belum selesai dicatat.
Arbani tampak sedikit kesal dengan respon singkat dari Azkina. "Coba gue ngobrol sama Azkina, tapi ya ngobrolnya terlalu singkat," ucap Arbani, setengah bercanda.
Grandy yang mendengar Arbani mengeluh hanya tertawa kecil. "Sabar, bro," katanya dengan senyum lebar. "Lo jangan buru-buru. nanti juga lo bakal bisa ngobrol sama Azkina, kok. jangan terlalu dipaksain."
Azkina hanya mengangkat bahu dan melirik ke arah papan tulis, terlihat sudah selesai mencatat. "Ya, gue sih udah selesai dari tadi," katanya dengan nada santai.
Arbani mendengus kecil, sedikit kesal tapi lebih karena rasa penasaran yang semakin mengganggunya. "Iya, iya, gue ngerti. cuma, nggak ada salahnya kan kalau coba ngobrol lebih lama?"
Grandy mengangguk, mencoba menenangkan. "Gue ngerti kok, tapi kadang-kadang lo harus nunggu waktu yang tepat. jangan buru-buru, nanti Azkina juga bakal lebih nyaman kalau lo sabar."
Arbani mendengus lagi, sedikit frustasi tapi juga mengerti maksud Grandy. ia hanya mengangguk pelan, mencoba untuk lebih sabar meskipun perasaannya masih penasaran.
Arbani akhirnya memilih untuk menahan diri, meski rasa penasaran masih terus menggerogoti pikirannya. dia menatap ke depan, berusaha kembali fokus, namun di dalam hati, pertanyaan tentang hubungan antara Grandy dan Mella, serta sikap Azkina, terus berputar.
Grandy yang melihat ekspresi Arbani hanya tersenyum tipis, tahu bahwa temannya itu butuh waktu untuk benar-benar memahami apa yang terjadi. "Santai aja, bro," kata Grandy dengan tenang, "Semua ada waktunya."
Meskipun Arbani hanya mengangguk, dia merasa sedikit lebih tenang mendengar kata-kata Grandy. ia tahu, pada akhirnya, semuanya akan berjalan dengan sendirinya. tapi untuk saat ini, ia memilih untuk menikmati hari itu, meskipun rasa ingin tahunya masih mengganjal di dalam hatinya.
"Udah, bro, kita fokus lagi catat di papan tulis," ucap Grandy sambil menyentuh pensilnya, kembali menulis dengan serius.
Arbani menarik napas dan mengangguk pelan, mencoba untuk menenangkan dirinya. meskipun rasa ingin tahunya masih mengganjal, dia memutuskan untuk fokus pada pelajaran. dengan sedikit usaha, ia mulai menulis, mengikuti ritme yang ditetapkan oleh Grandy. Grandy yang melihat Arbani mulai tenang kembali merasa puas. Ia tahu, kadang-kadang kita hanya perlu kembali ke hal-hal sederhana untuk bisa mengalihkan perhatian dan menemukan kedamaian dalam momen-momen kecil.
Mr. Haris mengamati keduanya, namun tetap sabar menunggu. "Ayo, Mella, sebentar lagi selesai, kan?" ujarnya, memberi semangat pada Mella yang masih berusaha menulis cepat.
Mella mengangguk cepat, mencoba mempercepat penulisannya. "Iya, Mr. sedikit lagi," jawabnya dengan suara yang sedikit terburu-buru.