Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sementara itu, Arbani duduk di sudut kelas, masih terjebak dengan pikirannya sendiri. desekali, pandangannya tertuju ke Grandy yang tampak melamun. Mella, yang memperhatikan dari jauh, merasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. namun, seperti kata Azkina, mungkin memang tidak semua hal perlu langsung diketahui atau dipahami.
Namun, di dalam hatinya, Mella tahu bahwa jika sesuatu terjadi, dia ingin siap membantu, entah untuk Arbani atau siapa pun yang membutuhkan.
Arbani masih menatap Grandy dari kejauhan, mencoba mencari petunjuk dari raut wajah temannya itu. Grandy tampak begitu tenggelam dalam pikirannya, seolah dunia di sekitarnya tak lagi berarti. Arbani menggenggam pensil di tangannya, mempertimbangkan apakah ia harus bertanya lebih jauh atau membiarkan Grandy dengan dunianya sendiri.
Mella, yang duduk di barisan tengah, sesekali mencuri pandang ke arah Arbani dan Grandy. Ia merasa ada keterhubungan aneh di antara mereka, meskipun tak sepenuhnya paham apa yang terjadi. Dalam benaknya, ia bertanya-tanya, apakah ini hanya kebetulan atau ada sesuatu yang menyatukan kegelisahan mereka berdua?
Mella mencoba mengabaikan rasa penasarannya, tapi pikirannya terus kembali ke Arbani dan Grandy. Dia memperhatikan cara Arbani sesekali melirik Grandy dengan ekspresi ragu, seolah ingin bicara tapi tak tahu harus mulai dari mana. Di sisi lain, Grandy terlihat semakin tenggelam dalam lamunannya, tatapannya kosong mengarah ke jendela kelas
Mella menggigit ujung penanya, berpikir keras. "Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya dalam hati. Keterhubungan yang ia rasakan di antara mereka berdua bukan hanya soal tatapan atau keheningan mereka, tapi lebih pada aura kegelisahan yang sama-sama terpancar.
"Apa mungkin mereka menyembunyikan sesuatu?" Jawabnya Mella sambil pikirnya. Tapi sebelum ia sempat memutuskan untuk mendekati salah satu dari mereka, bel tanda istirahat berbunyi, membuat suasana kelas berubah. Grandy dengan cepat mengemasi bukunya dan keluar tanpa sepatah kata, meninggalkan Arbani yang masih duduk dengan pandangan kosong.
Mella menghela napas. "Oke, ini makin aneh," batinnya. ia tahu, cepat atau lambat, semuanya akan terungkap, tapi kapan dan bagaimana, dia hanya bisa menunggu.
Mella merapikan buku-bukunya dengan lambat, pikirannya masih penuh dengan spekulasi. Di sudut matanya, dia melihat Arbani tetap duduk di kursinya, tampak enggan bergabung dengan keramaian di luar kelas. Sementara itu, Grandy sudah menghilang entah ke mana.
Mella berdiri dan berjalan perlahan keluar kelas, tetapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk berbalik. "Mungkin gue harus tanya Arbani," pikirnya.