bab 37

46 28 2
                                        

Azkina dan Mella mengangguk, kemudian berjalan cepat menuju pintu kelas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Azkina dan Mella mengangguk, kemudian berjalan cepat menuju pintu kelas. mereka berdua keluar dengan langkah ringan, sementara suasana kelas kembali fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung.

Setelah itu, Azkina dan Mella keluar dari kelas dengan cepat, sementara Mr. Haris melanjutkan pelajaran tanpa gangguan. Suasana di dalam kelas tetap tenang, murid-murid fokus mencatat dan mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari Mr. Haris. Sementara itu, Azkina dan Mella menuju wc, dengan langkah santai namun cepat, meskipun ada sedikit canggung karena permintaan izin tadi.

Saat Azkina dan Mella keluar dari kelas, Arbani yang sedang duduk di bangkunya secara kebetulan melirik ke arah jendela. matanya menangkap sosok Azkina yang berjalan bersama Mella keluar kelas. ia diam sejenak, merasa sedikit penasaran, namun tidak mengungkapkan apa pun.

Arbani kembali fokus ke depan, meskipun pikirannya sedikit terusik oleh apa yang baru saja dilihat. namun, ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya dan melanjutkan memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung.

Namun, sesekali matanya melirik ke jendela, memikirkan ke mana Azkina dan Mella pergi, meskipun ia tidak ingin terlalu membiarkan dirinya terlarut dalam rasa ingin tahu itu. Arbani tahu bahwa saat ini, fokus pada pelajaran adalah yang terpenting.

Azkina dan Mella berjalan menuju toilet dengan cepat, mencoba untuk tidak terlambat kembali ke kelas. suasana di luar kelas agak sepi, hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang menggema di lorong sekolah. meskipun baru saja ada sedikit percakapan ringan, mereka berdua tetap diam sejenak, menikmati ketenangan itu.

Sesampainya di toilet, Azkina buru-buru masuk, sementara Mella menunggu di luar sebentar. Beberapa detik kemudian, mereka kembali keluar dan segera menuju kelas, memastikan mereka tidak menghabiskan waktu terlalu lama.

Setelah keluar dari WC, Azkina dan Mella segera berjalan kembali ke kelas, Mella ngomong kepada azkina "Lo hari ini ada kegiatan osis ngga?" ucap Mella

Azkina berkata kepada" Hari ini engga ada kegiatan osis Mel, kenapa?"

Mella tersenyum sedikit, merasa lega mendengar jawaban Azkina. "Oh, nggak apa-apa, cuma nanya aja. Gue pengen ngobrol lebih lama, udah lama nggak ngobrol seru," ucap Mella dengan santai, sambil melangkah kembali menuju kelas.

"Yuk, nanti kita bicarakan setelah bel pulang " jawab Azkina dengan senyuman.

Setelah itu, mereka berdua kembali melangkah menuju kelas dengan langkah santai, berbicara ringan di sepanjang jalan.

Azkina menatapnya dengan penuh perhatian. "Kadang perasaan nggak butuh alasan logis, Mel. Bisa aja karena hal-hal kecil yang lo sendiri nggak sadar. Mungkin cara dia main futsal, mungkin ekspresi dia waktu serius, atau mungkin karena... ada sesuatu di diri dia yang bikin lo penasaran."

Mella terdiam. Kata-kata Azkina cukup masuk akal, tapi ia masih enggan mengakuinya. "Tapi gue nggak mau baper sendiri kalau dia aja nggak peduli," gumamnya pelan.

Azkina tersenyum lembut. "Yaudah, santai aja. Nggak usah dipaksa buat ngerti sekarang. Kalau memang ada sesuatu, nanti lo bakal sadar sendiri. Kalau nggak ada, ya berarti cuma pikiran iseng," katanya.

Mella mengangguk pelan. "Iya, lo bener juga. Gue nggak mau overthinking. Kita balik baca buku aja, deh."

Azkina tersenyum puas. "Gitu dong. Tapi kalau ada perkembangan, gue yang harus pertama tahu, oke?" katanya sambil mengedipkan mata jahil.

Mella hanya menggeleng sambil tertawa kecil. "Iya, iya, kalau ada sesuatu yang beneran, lo bakal tahu duluan," ujarnya pasrah.

Sementara itu, Azkina mencuri pandang ke arah Mella dan tersenyum kecil. Ia tahu, sahabatnya sedang mengalami sesuatu yang baru-sesuatu yang mungkin belum Mella sadari sepenuhnya.

"Azkina [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang