Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Akhirnya, bus mulai melaju, membawa mereka bertiga dalam perjalanan pulang yang penuh dengan celotehan Arbani dan usaha Azkina untuk tetap bersikap cuek. Arbani yang memang tak bisa diam terus saja mencoba memancing reaksi dari Azkina. Sesekali, ia menyelipkan komentar jahil atau sekadar mengetuk kursi di depannya untuk menarik perhatian.
Azkina hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus melihat ke luar jendela. "Lo nggak capek ngomong terus, Ban?" tanyanya datar.
Mella yang duduk di sebelahnya terkikik pelan, menikmati interaksi mereka. "Udah lah, Ban, lo nggak akan menang. Azkina tuh ahli dalam ngecuekin orang," godanya.
Arbani malah semakin bersemangat.
"Justru itu tantangannya! Sampai kapan lo bisa bertahan, Kina?" katanya sambil menyandarkan kepalanya ke kursi dengan senyum penuh kemenangan.
Azkina menatap Arbani dengan ekspresi datar, tapi di dalam hatinya, ia tahu ini adalah permainan yang tak akan mudah dimenangkan.
"Lo bener-bener nggak bisa diem ya?" jawabnya sambil sedikit menatap Arbani.
"Tapi oke, kalau lo mau tantangan, gue siap."
Mella hanya tertawa kecil mendengar percakapan mereka, merasa senang melihat teman-temannya begitu ceria meski dengan cara yang agak unik.
"Duh, kalian berdua nggak ada habisnya ya," katanya, sambil melirik mereka berdua yang sedang bertarung dengan kata-kata.
Arbani tersenyum lebar, seolah merasa sudah menang satu ronde.
"Baru kali ini lo mau tantangan, Kina! Ini baru seru," katanya dengan nada bangga.
"Tunggu aja, gua bakal terus ganggu lo sampai nggak tahan!"
Azkina hanya mendengus kecil, tak ingin menyerah begitu saja.
"Boleh deh. Tapi lo bakal kecewa, Ban," jawabnya dengan nada tenang, meskipun dalam hati ia tahu ini bakal jadi perjalanan yang panjang.
Mella yang mendengar percakapan mereka hanya menggelengkan kepala dengan senyum.
"Kalian ini ya! bener-bener nggak ada habisnya," katanya sambil memandang keluar jendela, menikmati suasana perjalanan yang agak kacau namun tetap menyenangkan.
Arbani tertawa mendengar komentar Azkina. "Eh, gua ini penuh semangat, Mel! Kalau lo ikut ngobrol, pasti jadi seru," jawabnya dengan nada sedikit menggoda.
Azkina hanya mengangkat bahu, "Terserah lo aja, Ban. lo diem aja deh, biar lo yang pusing sendiri."
Mella yang mendengar itu hanya tertawa. "Udah-udah, jangan terus-terusan digodain, Ban. lo tau kan, Kina kalau udah diem itu tandanya lagi berusaha sabar," katanya sambil tersenyum ke arah Azkina.
tipis, merasa nyaman dalam kebersamaan mereka meskipun suasana perjalanan sedikit ramai.
"Aku cuma pengen pulang dengan tenang, nggak mau dengerin ocehan terus," jawabnya santai.
Mella tertawa kecil mendengar itu
"Tapi ya gitu, kalau bareng Arbani, nggak mungkin ada perjalanan yang tenang," ujarnya sambil melirik Arbani yang sedang berusaha membuat suasana lebih hidup dengan berbagai ocehannya.
Arbani tersenyum lebar.
"Emang aku harus jadi penghibur, dong. Kalau nggak, kalian bakal bosen!" jawabnya dengan penuh percaya diri.
Azkina hanya menggeleng pelan, meskipun ada senyum kecil di bibirnya.
"Yaudah deh, aku ikutin aja, yang penting sampe rumah cepet," katanya sambil menatap jendela lagi, menikmati perjalanan meskipun harus mendengarkan ocehan tanpa henti dari Arbani.
Mella hanya tertawa, menanggapi kelakuan Arbani dengan santai. "Lo penghibur? Lebih kayak ganggu, Ban," katanya sambil menatap ke luar jendela.
Arbani tidak patah semangat.
"Gitu, ya? oke deh, kalau gitu gua bakal lebih keras lagi supaya kalian nggak bosen," jawabnya dengan semangat, mulai memikirkan komentar lucu berikutnya untuk disampaikan.
Bus mulai mendekati area tempat tinggal mereka. suasana di dalam bus sedikit lebih tenang, meskipun percakapan ringan masih berlanjut. Azkina menatap keluar jendela, merasa sedikit lebih santai, sementara Arbani yang tempat duduknya mulai lebih memilih diam, seolah mengerti bahwa Azkina butuh sedikit ruang.