Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Grandy yang baru saja sampai di sekolah melihat ke arah Azkina dan Arbani yang berjalan berdampingan. Ia terkejut melihat mereka berangkat bersama, berjalan seiring meskipun biasanya mereka tidak begitu dekat. Grandy sedikit mengernyitkan dahi, penasaran dengan apa yang baru saja ia saksikan.
"Eh, mereka berangkat bareng ya?" pikir Grandy, bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang berbeda antara Azkina dan Arbani.
Grandy masuk ke kelas dan duduk di tempatnya. Setelah itu, ia melihat Arbani yang sudah duduk di meja sebelahnya. Dengan rasa penasaran yang masih belum hilang, Grandy akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Eh, Arbani, lo sama Azkina tadi berangkat bareng, ya? tumben deh," kata Grandy, sambil menatap Arbani dengan tatapan sedikit bingung.
Arbani yang sempat terkejut dengan pertanyaan itu, sedikit tertawa dan menjawab dengan santai, "Iya, kebetulan aja. gua nggak bawa motor hari ini, jadi naik bus bareng dia. Ngga ada apa-apa kok."
Grandy mengangkat alis, merasa penasaran tapi memilih untuk tidak memaksa. "Oh gitu, ya. Kalau ada apa-apa, kasih tahu gua, ya," ujar Grandy sambil duduk kembali di tempatnya, meskipun ia masih menyimpan rasa penasaran di dalam hati.
Grandy duduk kembali di tempatnya, masih dengan rasa penasaran yang mengganjal. Meskipun Arbani sudah memberikan penjelasan singkat, Grandy merasa suasana tadi pagi tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang berbeda, meskipun kecil, yang membuatnya penasaran. Daripada terus memikirkan hal itu, ia memutuskan untuk menunggu dan memperhatikan.
"Lihat aja nanti, pasti bakal kelihatan," pikir Grandy sambil menatap papan tulis, mencoba fokus pada pelajaran yang mulai berlangsung. Namun, di sudut pikirannya, rasa ingin tahu itu tetap bercokol, seperti menunggu potongan teka-teki lain yang mungkin akan muncul.
Sesekali, Grandy melirik ke arah Arbani, yang terlihat santai di tempat duduknya sambil mengetuk-ngetukkan pensil ke meja dengan ritme yang acak. Di sisi lain, Azkina tampak tenang, matanya tertuju pada catatan pelajaran, sesekali mencoret sesuatu di buku dengan ekspresi serius yang sulit ditebak.
Meski suasana kelas berjalan normal, Grandy tetap merasakan ada sesuatu yang berbeda. Namun, baik Arbani maupun Azkina tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun yang mencurigakan. Arbani terlihat sibuk dengan coretan kecil di buku catatannya, sementara Azkina tetap fokus pada pelajaran, mencatat dengan rapi tanpa sedikit pun menoleh ke arah lain.
Grandy akhirnya memutuskan untuk berhenti memikirkannya, setidaknya untuk sementara. Ia menghela napas pelan, mencoba mengalihkan perhatian sepenuhnya ke papan tulis dan materi yang sedang diajarkan. Namun, jauh di dalam hatinya, rasa penasaran itu tetap bercokol, seperti bara kecil yang menunggu angin untuk menyala kembali.
Setiap kali ia mencoba fokus, pikirannya kembali terganggu oleh bayangan Arbani dan Azkina berjalan bersama tadi pagi. Grandy akhirnya menggoyangkan kepalanya ringan, berusaha mengusir pikiran itu. "Nggak penting," gumamnya pelan, meskipun perasaan ingin tahu masih bersarang.
Namun, meskipun mulutnya berkata begitu, hati dan pikirannya tetap mencari-cari jawaban. ia melirik sekilas ke arah Arbani, yang tampak tenang mencatat sesuatu, dan Azkina, yang masih serius memperhatikan pelajaran. tak ada tanda-tanda yang mencolok, namun bagi Grandy, ada sesuatu yang terasa berbeda.
"Yah, biarin aja," bisiknya pada diri sendiri, meski rasa ingin tahunya tak sepenuhnya hilang. Mungkin waktu akan memberi jawabannya. Atau mungkin, ia harus menunggu momen yang tepat untuk mencari tahu lebih jauh.