Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada rasa yang Fachry sendiri sulit untuk dijelaskan. bukan cemburu, tapi lebih kepada... rasa ingin tahu. Ia tahu Mella adalah tipe orang yang tidak mudah terbuka pada siapa pun. Namun, dengan Grandy, dia terlihat begitu santai, begitu... berbeda.
"Lo kenapa sih, Fach?" suara Raka kembali memecah lamunannya. Kali ini nada suaranya terdengar lebih penasaran.
"Enggak kenapa-kenapa," jawab Fachry cepat sambil membalik halaman buku, meskipun ia tidak benar-benar membaca. "Gue cuma heran aja. Mereka deket banget, ya?"
Raka mengikuti arah pandang Fachry, lalu mengangguk pelan. "Ya, Grandy sama Mella kan udah lama temenan. wajar kalau mereka deket. lo baru sadar, ya?"
Fachry mendesah lagi, merasa jawaban Raka tidak membantu meredakan pikirannya. "Iya, gue tahu. tapi... ya nggak tahu, deh. gue cuma kepikiran aja."
Raka menyeringai, seperti menangkap sesuatu dari nada suara Fachry. "Jangan-jangan lo ada sesuatu sama Mella?"
Fachry langsung menoleh dengan ekspresi terkejut. "Apaan sih, enggak! lo kebanyakan nonton drama, Rak
Raka yang melihat ekspresi Fachry hanya tersenyum tipis, tahu bahwa temannya itu butuh waktu untuk benar-benar memahami apa yang terjadi. "Santai aja, bro," kata raka dengan tenang, "Semua ada waktunya."
Meskipun Raka hanya mengangguk, dia merasa sedikit lebih tenang mendengar kata-kata Fachry. ia tahu, pada akhirnya, semuanya akan berjalan dengan sendirinya. tapi untuk saat ini, ia memilih untuk menikmati hari itu, meskipun rasa ingin tahunya masih mengganjal di dalam hatinya.
"Udah, bro, kita fokus lagi catat di papan tulis," ucap raka sambil menyentuh pensilnya, kembali menulis dengan serius.
Fachry menarik napas dan mengangguk pelan, mencoba untuk menenangkan dirinya. meskipun rasa ingin tahunya masih mengganjal, dia memutuskan untuk fokus pada pelajaran. dengan sedikit usaha, ia mulai menulis, mengikuti ritme yang ditetapkan oleh Raka
Mr. Haris, guru Bahasa Inggris, melihat ke arah murid-muridnya dengan senyum di wajahnya. "Apakah kalian sudah pada selesai nulisnya?" tanyanya, suaranya penuh perhatian."Mr. mau hapus papan tulisnya nih." Beberapa murid yang masih sibuk mencatat buru-buru mempercepat tulisan mereka, sementara yang lainnya sudah mulai menutup buku catatan mereka. Mr. Haris menunggu sebentar, memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu siap untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya.
Beberapa murid yang masih sibuk mencatat buru-buru mempercepat tulisan mereka tersebut grandy, Arbani, Mella,sementara yang lainnya sudah mulai menutup buku azkina udah mencatatnya duluan murid lain berkata Mr. Haris menunggu sebentar, memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu siap untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya