bab 31

85 52 4
                                        

Mella hanya tersenyum tipis, pandangannya kembali ke arah jendela

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Mella hanya tersenyum tipis, pandangannya kembali ke arah jendela. Entah kenapa, ucapan Grandy tadi membuat pikirannya sedikit terusik, tapi ia berusaha menyembunyikannya. "Ya udah, bagus kalau mereka cocok," jawabnya ringan, meski pikirannya mencoba mencari makna di balik pemandangan itu.

Grandy memiringkan kepala, memperhatikan reaksi Mella yang terlihat lebih tenang dari yang ia perkirakan. "Kok lo santai banget, Mel? Biasanya lo kan paling cepet nyambung kalau ngomongin Arbani," ucapnya sambil tersenyum iseng.

Mella hanya tertawa kecil, meski terdengar sedikit dipaksakan. "Ngapain juga gue ribet? mereka temenan aja, kan?" Ia mengangkat bahu, mencoba menutup percakapan dengan sikap acuh.

Namun, di dalam kepalanya, pikiran itu terus berputar. Arbani dan Azkina. Berangkat bersama. ada apa di antara mereka? bukan karena dia merasa cemburu setidaknya, itu yang ia yakinkan pada dirinya sendiri tapi ada sesuatu yang terasa aneh, seperti sesuatu yang ia lewatkan.

"Mel," Grandy memanggil lagi, membuat Mella menoleh. "Lo yakin nggak apa-apa? Kayaknya lo kepikiran deh."
Mella tertawa kecil, kali ini lebih tulus. "Santai aja, Grand. lo yang kepo banget," jawabnya, mencoba menutupi rasa gelisah yang diam-diam menyelinap di hatinya. "Kalau mereka cocok, gue seneng kok."

Grandy menatap Mella dengan penuh perhatian, masih merasa ada yang mengganjal. "Lo bilang gitu, tapi muka lo tuh nggak bohong, Mel," ujarnya dengan nada penuh kepedulian. "Kadang-kadang lo harus kasih perhatian buat diri lo juga, lo tahu kan?"

Grandy menyipitkan mata, menatap Mella dengan ekspresi penuh curiga. "Hmmm, gue nggak yakin sama kata-kata lo, Mel. lo bilang seneng, tapi kenapa nada lo kayak orang yang lagi meyakinkan diri sendiri?"

Mella menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Grand, lo terlalu peka deh. udah, anggap aja gue nggak ada urusan sama ini."
Grandy menatapnya dengan lembut, nada suaranya kini lebih serius. "Mel, lo ngga perlu selalu ngerti semuanya. kadang-kadang orang-orang di sekitar kita punya cerita mereka sendiri.dan nggak apa-apa kalau lo merasa asing sama itu."

Mella tersenyum tipis, merasa tersentuh oleh ucapan Grandy, meskipun ia tidak mengungkapkannya. "Thanks, Grand," ujarnya pelan. "lo selalu tahu cara bikin gue nggak terlalu ribet mikirin hal-hal nggak penting."

Grandy tertawa kecil. "Ya udah, gue anggap lo baik-baik aja, tapi kalau lo butuh cerita, gue ada, kok."

"Arbani seperti ya naksir sama azkina kalo deket sama azkina dia senang, tapi azkina sikap cuek sama arbani" ucap Mella

"Gue peka karena gue kenal lo" balas Grandy cepat. "Dan gue tahu kalau lo ngomong kayak gitu, biasanya ada sesuatu yang lo pendam."

Mella terdiam sejenak, pandangannya menerawang. "Mungkin gue cuma... aneh aja, ya. dulu gue pikir gue tahu siapa-siapa aja yang deket sama dia. tapi sekarang..." Ia berhenti, enggan melanjutkan kalimatnya.

Fachry mendesah, memilih untuk tidak merespons lebih jauh. dalam hatinya, ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya mereka obrolin? kenapa kelihatannya Mella nyaman banget sama Grandy?

Fachry mencoba mengalihkan perhatiannya dengan membuka buku di depannya, namun matanya terus saja melirik ke arah Grandy dan Mella. mereka masih asyik berbicara, sesekali tertawa kecil, seolah dunia di sekitar mereka tidak ada.

"Azkina [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang