Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Grandy terdiam sejenak, menatap Mella dengan alis terangkat.
"Lo beneran pikir begitu?" tanyanya, nada suaranya penuh rasa penasaran.
Mella mengangguk pelan, matanya masih menatap ke arah luar jendela.
"Iya, gue ngeliatnya gitu. kalau Arbani deket sama Azkina, dia keliatan lebih hidup, lebih ceria gitu tapi Azkina kaya ngga peduli dia selalu cuek, ngga pernah kelihatan nanggepin lebih,
"Tapi kamu yakin itu naksir, Mel? kadang orang bisa keliatan seneng cuma karena nyaman ada di sekitar orang lain, bukan selalu soal suka,"
Mella tertawa kecil, tapi kali ini terdengar pahit.
"Mungkin kamu bener. tapi, kalau gue jadi Arbani, aku nggak tahu apa gue bisa tahan kalau terus-terusan ketemu sama orang yang sikapnya datar begitu."
Grandy memperhatikan Mella lebih lama, mencoba membaca apa yang sebenarnya dia rasakan.
" Gue kayaknya punya pendapat yang lebih dari sekadar ngamatin,apa ini sebenernya bukan soal Arbani dan Azkina aja?"
Mella menoleh cepat, menatap Grandy dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Maksud lo apa?"
Grandy tersenyum kecil, mengangkat bahu.
"Ngga apa-apa. gue hanya bilang, kadang kita lebih peka ke perasaan orang lain karena perasaan kita sendiri juga lagi nggak jelas,"
Mella menarik napas panjang, kemudian menatap Grandy lagi. Kali ini dengan senyum kecil yang lebih tulus.
“ gue beruntung punya teman kayak lo,"
Grandy mengangkat bahu santai.
“Sama-sama, kalau kamu udah siap ngomong, atau bahkan cuma butuh duduk bareng sambil bengong, aku di sini,"
Mella menatap Grandy sebentar, menyimpan rasa syukur dalam hatinya. Kehadiran Grandy adalah semacam pengingat bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
" Lo lucu banget Grand, duduk bareng sambil bengong? kayak nggak ada kerjaan aja,” ujar Mella sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
Grandy mengangkat alis, berpura-pura serius.
“Eh, jangan salah kadang bengong bareng itu terapi terbaik,"
Mella menggelengkan kepala sambil tersenyum geli, tidak bisa menahan tawa kecil. "Kamu bener-bener definisi temen yang aneh tapi berguna," ujarnya dengan nada bercanda, merasa terhibur dengan sikap Grandy yang unik dan selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik.
Mella menggelengkan kepala sambil tersenyum geli, tidak bisa menahan tawa kecil. "Kamu benar-benar definisi teman yang aneh tapi berguna," ujarnya dengan nada bercanda, merasa terhibur dengan sikap Grandy yang unik dan selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik.
Grandy tersenyum lebar, merasa senang dengan tanggapan tersebut.
"Gue terima itu sebagai pujian,"
Dia memang dikenal sebagai orang yang santai dan tidak mudah terbawa perasaan, selalu melihat hal-hal positif meskipun situasi bisa terasa canggung atau penuh tantangan.
Di sudut kelas, Fachry duduk sambil bertopang dagu, matanya terus tertuju pada Grandy dan Mella yang tampak asyik mengobrol di pojok lain. ekspresi Fachry datar, tapi ada sedikit rasa penasaran yang sulit ia sembunyikan.
“Sering banget mereka ngobrol berdua,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia memperhatikan bagaimana Grandy terkadang tertawa kecil, sementara Mella sesekali tersenyum dengan ekspresi yang sulit ditebak. bukan sekali dua kali Fachry memperhatikan mereka seperti ini, tapi entah kenapa hari ini pandangannya tidak bisa lepas.
Seorang teman yang duduk di sebelah Fachry, Raka, menyadari tatapan Fachry. “Eh, lo kenapa liatin mereka terus? ada apa, Fach?” tanyanya sambil menyikut pelan.
Raka terkekeh.
“ jangan bilang kamu kepo sama mereka. kalau iya lo tinggal samperin aja,"