Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mella, yang melihat ke arah Azkina, bisa merasakan perubahan kecil dalam sikap sahabatnya. Ia tersenyum kecil, merasa bahwa mungkin ini adalah langkah pertama menuju sesuatu yang lebih dalam. "Udah mulai nyaman, kan?" godanya, meskipun suara Mella terdengar ringan.
Mella hanya tertawa kecil mendengar respon Azkina. "Iya, iya, biasa aja," katanya sambil menggelengkan kepala
Tak lama, bus berhenti di halte dekat rumah azkina . Azkina berdiri, siap untuk turun, sementara Mella , Arbani masih dalam bus
Azkina terkejut sejenak kesandung, tapi sebelum ia bisa terjatuh, Arbani dengan sigap menahannya. Tangan Arbani yang kuat memegang bahunya, membuat mereka berdua saling bertatap mata, untuk beberapa detik yang terasa agak lama.
Azkina terdiam, sedikit bingung dengan kedekatan yang tiba-tiba ini. Matanya menatap Arbani, dan meskipun ia berusaha tetap tenang, hatinya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Mella cie cie in azkina " aaa seperti ada drama Korea, perasaan ngga di kelas ngga di bus ada aja tatapan, ternyata Arbani se-sweet ini"
Azkina langsung menatap Mella dengan wajah datar, berusaha tetap tenang meskipun ada rasa canggung yang mulai menguasai. "Udah deh, Mel, lo jangan lebay," jawabnya sambil berjalan agak cepat, mencoba untuk mengalihkan perhatian.
Mella hanya tersenyum nakal, menikmati melihat sahabatnya yang tampak sedikit cemas. "Iya, iya, lo gak usah malu-malu. Gue tahu kok," katanya dengan suara yang lebih pelan, seolah menggoda dengan penuh arti.
akhirnya Azkina mengucapkan terima kasih, "Makasih, Ban," mencoba mengalihkan perhatian.
Arbani, yang juga merasa sedikit terkejut dengan situasi itu, hanya mengangguk dan tersenyum. "Iya, lo hati-hati juga, Kina," jawabnya, masih dengan senyum yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
Azkina pun segera melangkah keluar dari bus, masih merasa sedikit canggung, dan tak lupa melambaikan tangan ke Mella dan Arbani. "Bye, Mel, Ban! sampai besok!" katanya, mencoba untuk kembali ke ritme biasa.
Mella dan Arbani membalas lambaian Azkina, dengan senyum di wajah mereka. Mella bahkan memberikan isyarat tangan yang sedikit berlebihan, seolah menggoda Azkina lebih jauh. "Sampai besok, Kina!" teriaknya dengan nada ceria.
Arbani hanya mengangguk sambil tersenyum ringan. "Sampai besok, Kina!" jawabnya, namun tatapannya masih mengikuti Azkina sampai ia hilang dari pandangan.
Arbani tetap tersenyum, sedikit terbawa suasana, hingga akhirnya ia menoleh ke Mella yang masih tersenyum penuh arti. "Apa?" tanyanya sambil mengangkat alis, merasa Mella sedang memperhatikan reaksinya.
Azkina terdiam, sedikit bingung dengan kedekatan yang tiba-tiba ini. Matanya menatap Arbani, dan meskipun ia berusaha tetap tenang, hatinya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Mella hanya tertawa kecil. "Gue cuma observasi aja, Ban. nanti kamu lihat sendiri," jawabnya, sambil memandang keluar jendela, seolah tahu sesuatu yang belum terungkap.