•
•
•
•
Happy Reading
••©••
Di kamar hotel, kini terlihat pemuda yang sedang di kuasai amarah berdiri di balkon kamar sambil memegang wine di tangannya. Sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Namun pemuda itu tetap diam tanpa berniat merespon pelukan seorang gadis yang merupakan kekasihnya itu.
"Maaf".
Jungwon tetap diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Oppa maaf. Aku tadi cuma bercanda". Leeseo membalikkan tubuh sang kekasih kala masih tidak mendapatkan respon darinya. Mengambil wine yang di pegang Jungwon lalu menaruhnya di meja kecil yang berada di sampingnya.
"Kalo oppa gak percaya, kita bisa nikah bulan depan. Terserah oppa aja mau nikah kapan". Jungwon masih diam dan hanya menatap Leeseo datar.
"Op___emmhh". Ucapan Leeseo terpotong karena Jungwon tiba-tiba mencium bibirnya.
"Jangan tarik kata-kata kamu. Kita nikah bulan depan". Ucap Jungwon sambil mengusap bibir sang kekasih.
"Terserah____lagian kenapa sih buru-buru mau nikah?".
"Kita pacaran bukan setahun dua tahun loh, kamu masih bilang aku buru-buru?!".
"Ya kan aku gak siap nikah muda". Ucap Leeseo dengan cemberut.
"Kenapa gak siap nikah muda?". Jungwon membelai rambut sang kekasih dan menatapnya intens.
"Gak ada alasan tertentu. Aku cuma takut ngerepotin kamu karena aku masih suka manja dan ke kanak-kanakan".
"Sayang, aku suka kamu yang manja sama aku. Aku gak masalah kamu masih ke kanak-kanakan. Aku cinta kamu apa adanya".
Leeseo tersenyum lalu memeluk sang kekasih. Jungwon membalas pelukan Leeseo, mengelus kepalanya dan sekilas menciumnya.
••©••
"Kenapa?".
Yujin yang tiba-tiba di peluk dari belakang oleh sang suami reflek menoleh.
"Kenapa?. Ada yang ganggu pikiran kamu?". Tanya Jake kembali saat Yujin tidak menjawab pertanyaannya.
"Gak papa". Jawab Yujin sambil mengelus tangan Jake yang memeluknya.
"Kamu pikir aku percaya?!. Jujur__kamu kenapa?".
"I'm fine". Mendengar ucapan Yujin, Jake melepaskan pelukannya lalu membalik tubuh Yujin agar menghadapnya.
"Apa di antara kita harus ada rahasia?!. Sayang, kita udah nikah bertahun-tahun dan kamu masih belum percaya sama aku?!".
"Bukan gitu".
"Lalu?".
Bukannya menjawab Yujin malah menangis mendengar pertanyaan Jake.
"Hei, kenapa nangis?". Jake menghapus airmata sang istri yang mengalir di pipinya.
"Maaf". Ucap Yujin hampir seperti bisikan.
