Semua terasa seperti mimpi. Mimpi paling buruk yang pernah ada. Apa maksud semua ini? Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia terbangun di kamarnya, dengan dibanjiri keringat.
Ia menoleh kesana-kemari, namun tidak mendapati siapa-siapa. Apakah itu benar-benar hanya sebuah mimpi?
"Udah bangun?", tanya seseorang yang muncul dari ambang pintu kamar.
Yoshi menoleh dan melihat siapa yang datang.
Ternyata, itu Hyunsuk.
"Mashi udah buat sarapan, turun ya? Kami tunggu di meja makan", ujar Hyunsuk.
Yoshi beranjak dari tempat tidurnya dan mengikuti Hyunsuk.
"Halo, bang. Gimana? Udah enakan?", sapa Jeongwoo.
"Pasti udah dong, kan kak Yoshi strong", jawab Haruto.
"Stress ga tertolong?", celetuk Junghwan.
"Hush, mulut lo", gertak Jihoon.
Mereka bertiga nyengir saja. Jokes-jokes tidak berfaedah itu memang kadang mengundang amarah Jihoon.
"Ayo sini duduk, kak", ucap Asahi.
Yoshi pun duduk di sebelah Asahi. Dan mulai menikmati makanannya. Sesekali ia menatap satu-persatu wajah teman-temannya itu.
"Ngapain, bang? Kaya lagi ospek", celetuk Junghwan.
"Kalian gapapa?", tanya Yoshi.
Mereka bersebelas saling beradu tatap. Hingga akhirnya, pertanyaan Yoshi dijawab oleh Jihoon.
"Gapapa, emang harusnya kenapa?"
"Syukurlah, ternyata cuma mimpi", ucapnya merasa lega.
Hyunsuk tersenyum melihat Yoshi yang memakan makanannya dengan lahap. Matanya berkaca-kaca.
Ia membuyarkan lamunannya dan mengusap air matanya yang hampir jatuh. Apakah jika penyakit itu tidak pernah ada, dia tidak akan bisa melihatnya?
"Makan yang banyak, kak. Biar cepet sembuh", ucap Jaehyuk.
Disela-sela menikmati makanannya, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Doyoung dan Junkyu beranjak dari kursinya untuk membukakan pintu.
"Kyu, siapa yang dateng?", tanya Hyunsuk pada Junkyu.
"Rentenir", jawabnya ketus.
"Gua ga ada hutang ya nyet"
"Kak Heeseung dkk kayanya", jawab Haruto.
Yoshi terdiam mendengar itu. "Mereka juga masih hidup?", pikirnya.
Mereka mulai masuk rumah setelah Doyoung membukakan pintu. Benar, itu gengnya Heeseung yang datang untuk bersilaturahmi dan menjenguk Yoshi.
"Halo bang, gimana kabar lo?", sapa Riki.
"Ya beginilah. Lemes-lemes mampus rasanya", jawab Yoshi sambil terkekeh.
"Hai, Yosh", sapanya. Suara itu menggema di telinga Yoshi.
Ia menoleh ke arah seseorang yang berdiri di belakang Riki. Ingin melihat suara siapa yang menggema di telinganya.
Orang itu melemparkan seringai mengerikan untuk Yoshi. Senyum yang seram dan kejam. "Pembunuh", batinnya.
Waktu terasa berhenti. Semuanya diam terpaku di tempat. Kecuali Yoshi dan orang itu.
"Inget gua, bung?", tanyanya masih dengan seringai menyeramkan itu sambil berjalan menghampiri Yoshi.
Jay mulai merangkul Yoshi yang tubuhnya bergetar ketakutan. "Ah, lo pikir mereka nyata?", tanyanya.
Yoshi menepis tangan Jay yang merangkulnya itu dan memberi tatapan tajam padanya.
"Enyah lo dari kehidupan gua dan jangan pernah ganggu temen-temen gua lagi"
"Wuish, ngerinya", ucapnya sambil terkekeh.
Waktu mulai berjalan kembali. Namun, sekitarnya kosong. Hanya ada dia sendiri di rumah itu. Ia menoleh mencari kemana teman-temannya itu. Nihil. Tidak ada siapa-siapa.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Yoshi dari belakang. Ternyata itu kakaknya.
Akhirnya, ia mengantar Yoshi kembali ke kamar. Kejadian apa itu barusan? Kemana mereka semua?
"Diminum ya itu obatnya, jangan lupa", ucap kakaknya lalu pergi.
Obat? Yoshi bingung. Itu obat apa?
Yoshi duduk di pinggir ranjangnya, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Sampai akhirnya, ia mendengar suara tangisan seseorang di sebelah kamarnya. Suaranya terdengar sangat putus asa. Yoshi sadar, itu suara kakaknya. Karena penasaran, ia menghampiri kakaknya. Awalnya ingin menenangkan, tapi malah menguping.
Tangisan itu masih berlanjut.
"Aku harus gimana lagi? Aku ga kuat ngurus Yoshi sendirian. Kenapa penyakit itu harus datang sekarang?", tanyanya pada dirinya sendiri.
Penyakit apa yang dimaksud?
Yoshi segera kembali ke kamarnya. Ia mencari informasi di bungkus obat itu.
Skizofrenia?
Jantungnya berdetak kencang. Jadi, itu semua hanya halusinasi? Kejadian pembunuhan itu benar adanya? Ia menjambak rambutnya frustasi.
"Ngga, ngga. Gua ga bakal minum obat ini", ucapnya. Karena jika Yoshi meminum obat itu, ia tidak akan bisa melihat teman-temannya lagi. Ia rela hidup dengan kesengsaraan daripada tidak bisa melihat teman-teman baiknya yang mati mengenaskan hanya karena merebutkan harta. Padahal, harta itu tidak bisa membeli waktu dan kenangan yang sudah mereka lalui bersama-sama.
"Jangan karena kami, lo hidup sengsara gini, Yosh", ucap seseorang entah darimana.
Yoshi mencari sumber suara, tapi tidak menemukan apa-apa.
"Minum obatnya. Lanjutin hidup lo dengan tenang. Jangan mikirin kami lagi", lanjutnya.
Yoshi menyadari kalau itu adalah suara Hyunsuk, sahabatnya yang paling pengertian. Ia mulai menangis, memori indah mereka berputar di kepala Yoshi.
"Kami bakal selalu di sisi lo", ucap mereka serempak.
Akhirnya, Yoshi memutuskan untuk meminum obat itu. Ia akan melanjutkan masa depannya demi teman-temannya.
———————————————————————————————
-THE END-
WAR IS OVER, GUYS HAHA.
KAMU SEDANG MEMBACA
KILL OR DIE
Mystery / ThrillerDi sinilah letak keegoisan. Mereka hidup dengan penuh keraguan dan ketakutan. Cerita diawali dengan berbagai gangguan aneh dan sulit dipercaya. "Yang terdekat, belum tentu penyelamat. Yang terdekat, bisa jadi pengkhianat. Terkadang, keegoisan itu di...
