Seorang gadis berusia 15 tahun, yang sudah dipaksa mandiri oleh keadaan. Kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia kemarin, Keyla Safira namanya, Hingga akhirnya, ada 2 seorang laki-laki datang dan membawa pelangi ke dalam hidupnya.
Arsenio Dani...
"Terkadang, kita harus terjatuh terlebih dahulu untuk memahami betapa berharganya diri kita."
- Author
• • •
Aryo masih menjalin hubungan dengan Ghea, tanpa menyadari bahwa gadis itu selama ini hanya memanfaatkannya. Namun, dengan kekayaan yang seolah tak pernah habis, Aryo tampak tak peduli.
"Kok belakangan ini kamu sering banget mampir ke kantor Om?" tanya Aryo sambil mengusap lembut pipi Ghea yang halus. Gadis itu membalas dengan melingkarkan tangannya di leher Aryo, seperti kebiasaannya.
"Aku bosan di rumah. Lagi pula, Om sibuk terus, gak ada waktu buat aku," jawab Ghea, melepas pelukannya dengan ekspresi cemberut, bibirnya sedikit manyun.
Mendengar itu, wajah Ghea langsung berubah. Ia berdiri dari pangkuan Aryo dengan gerakan mendadak, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa? Sekarang Om mau ngelarang aku shopping?" serunya, suaranya naik satu oktaf, menunjukkan ketidaksenangannya.
"Eh, bukan gitu, Ghea," Aryo tergagap, mencoba meredakan suasana. "Om senang kok kalau kamu belanja. Cuma, jangan sampai lupa sama kuliahmu, ya."
"Om gak ada urusannya sama kehidupan kupu-kupu malam kayak aku!" suara Ghea memecah keheningan, tajam dan penuh emosi.
Aryo terdiam. Kata-kata itu menamparnya keras, menyadarkan bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh. Seharusnya ia tahu, hubungan mereka tidak pernah lebih dari sekadar saling memberi dan menerima—transaksi tanpa rasa yang nyata.
Ia menarik napas dalam, menunduk sejenak untuk menyembunyikan luka yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Mungkin ia salah karena mencoba mencampuri hidup Ghea, lupa bahwa gadis itu bukan bagian dari dunianya, melainkan hanya seseorang yang ia beri tempat sesaat.
"Om cuma khawatir," gumam Aryo akhirnya, suaranya lirih. Tapi kekhawatirannya tak lagi relevan di mata Ghea, yang hanya melihat hubungan mereka sebagai alat untuk keuntungan semata.
"Selain donatur, dilarang mengatur," Ghea berkata dengan nada penuh sindiran, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang lebih seperti ejekan.
Ia melangkah mendekat, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Tapi kalau Om kasih aku uang seratus juta, aku mau, deh, diatur sepuas Om."
"Ghea..." Aryo mencoba berkata sesuatu, tapi kata-katanya terhenti. Ia tahu, tak ada ruang untuk cinta atau perhatian di hubungan ini. Yang ada hanyalah transaksi, seperti yang selalu Ghea tegaskan.
"Oke, syaratnya kamu milik Om malam ini," ujar Aryo dengan suara rendah, matanya menatap tajam ke arah Ghea.
Sebelum gadis itu sempat menjawab, Aryo menariknya ke pangkuannya dengan lembut namun penuh dominasi. Tangannya mengecup sisi wajah Ghea, sementara bibirnya perlahan menyentuh bibir berwarna peach milik gadis itu. Ciuman itu dimulai pelan, seperti menjelajahi rasa, namun semakin dalam seiring detik berlalu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.