"Kalau melupakan masa lalu semudah itu, saya nggak akan hidup dengan hati yang penuh serpihan."
- Aryo Rafendi
•
•
•
"Gimana, udah dapet duitnya?" tanya laki-laki yang duduk di balik kemudi, menunggu gadis itu masuk ke mobil.
"Udah dong, siapa dulu?" balasnya dengan nada bangga, sembari menyodorkan layar ponsel yang menampilkan saldo dua puluh juta rupiah.
"Lo emang pinter banget, sayang," cowok itu terkekeh pelan, matanya berkilat penuh makna. "Aku rindu tubuhmu, sayang... Malam ini boleh?"
"Aku milikmu malam ini, baby~"
Sudah pukul 17.00, ruangan rumah sakit itu mulai terasa sunyi. Hanya suara mesin infus yang sesekali berbunyi pelan. Keyla duduk di kursi samping ranjang, jemarinya menggenggam tangan Arsen yang masih terbaring lemah. Matanya sembap, tetapi ia tidak mau melepaskan genggaman itu.
"Arsen... lo harus sembuh, ya?" bisik Keyla, suaranya serak karena terlalu banyak menangis. Ia mengusap lengan Arsen pelan, berusaha menenangkan diri sendiri.
Prita, gadis itu pamit sebentar ke toilet, meninggalkan Keyla sendirian bersama Arsen. Namun, di tengah keheningan itu, pintu ruangan tiba-tiba terbuka perlahan. Suara langkah kaki berat terdengar memasuki ruangan tanpa aba-aba.
Keyla langsung menoleh, dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Tatapan pria itu dingin bagai es, penuh amarah yang tampaknya sudah lama ditahan. Ia melirik sekilas ke Arsen yang masih tertidur, lalu fokus kembali ke Keyla.
"Siapa kamu?" tanyanya singkat, namun menggetarkan.
Keyla buru-buru berdiri, membungkuk sopan meski tubuhnya bergetar. "Saya... Keyla, Pak. Temannya Arsen."
Laki-laki itu mengangguk pelan, tetapi tatapannya tetap dingin. "Saya Aryo, ayah Arsen."
Keyla menelan ludah, mencoba mengatur napasnya yang berantakan. "Senang berkenalan dengan Bapak, e-eh maksud saya Om...." ucapnya lirih.
Aryo menyilangkan tangan di dada, memperhatikan Keyla tanpa berkedip. "Jadi, kamu teman Arsen?"
"I-iya, Om. Saya hanya ingin menemani Arsen."
"Kalau begitu, ini mungkin hari terakhir kamu bisa menemani anak saya," potong Aryo, nadanya tetap datar, tapi begitu menusuk hingga membuat Keyla membeku di tempat.
"Maaf, Om?" Keyla mengerutkan kening, tidak mengerti.
Aryo menghela napas panjang, lalu menatap Keyla tajam, seakan ingin menguliti semua rahasia yang gadis itu simpan.
"Saya tahu siapa kamu, Keyla. Dan saya tahu siapa ayah kamu."
Keyla tertegun. Darahnya serasa berhenti mengalir. "Om... Bagaimana bisa tahu?"
Aryo tersenyum tipis, tapi senyum itu penuh kepahitan. "Ya. Saya tahu." Ia mendekat, membuat Keyla tanpa sadar melangkah mundur. "Kamu anak Jordan, bukan?"
Jantung Keyla seakan copot dari tempatnya. Ia menatap Aryo dengan mata membesar, napasnya tercekat.
"Kamu itu anak dari laki-laki yang dulu menghancurkan hidup saya," bisik Aryo, tetapi suaranya bagaikan petir yang menggema di dada Keyla.
Keyla menggeleng cepat, air matanya mulai mengalir tanpa bisa ia tahan. "Maksud Om? Saya yakin papa saya bukan orang seperti itu!"
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Bukti sudah ada ditangan saya, dan untuk kamu keluar sekarang juga, jangan pernah lagi menginjakkan kaki disini, PAHAM?!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAPHERNELIA (END)
Novela JuvenilSeorang gadis berusia 15 tahun, yang sudah dipaksa mandiri oleh keadaan. Kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia kemarin, Keyla Safira namanya, Hingga akhirnya, ada 2 seorang laki-laki datang dan membawa pelangi ke dalam hidupnya. Arsenio Dani...
