30

24 10 6
                                        


"Gue kira yang paling nyakitin itu waktu kita saling benci

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gue kira yang paling nyakitin itu waktu kita saling benci. Ternyata lebih nyakitin waktu lo diem kayak gini."

- Keyla Safira

"Gue nggak pernah milih buat diem. Gue denger semua yang lo bilang, tapi gue belum kuat buat buka mata. Gue takut... kalau gue nggak bangun, lo bakal terus nangis kayak gini."


- Arsenio Daniel Mahendra

~•~

Tok tok tok...

Suara gedoran pintu semakin keras, menggetarkan suasana malam yang seharusnya sunyi. Jam di meja samping tempat tidur menunjukkan pukul 01.17 dini hari.

Aryo menggeram kesal, mengangkat tangan Ghea yang masih mengusap dadanya dengan manja.

"Ck, siapa sih? Malem-malem ganggu aja," keluh Aryo, matanya melirik pintu dengan tajam.

Ghea menarik selimut, lalu bersandar ke kepala ranjang. "Anak kamu nggak bakal balik lagi, kan? Bukannya tadi jam 7 malam kamu udah usir dia?" tanyanya sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.

"Kalau anak itu nekat balik lagi malam ini, aku sendiri yang bakal kasih dia pelajaran," ucapnya dingin, lalu mencium bibir Ghea sekilas sebelum bangkit dan melangkah ke pintu.

Begitu pintu terbuka, Jeck berdiri di sana. Napasnya tersengal, wajahnya pucat, dan keringat mengalir deras di pelipisnya.

"Ngapain kamu di sini? Udah malam, ganggu privasi saya aja!" bentak Aryo tanpa basa-basi.

Jeck menelan ludah, suaranya bergetar. "Pak... saya lihat Arsen."

Aryo mengernyit, matanya menyipit tajam. "Kamu ngomong apa? Dia udah saya usir tadi malam."

Jeck menggeleng cepat. "Saya lihat dia, Pak. Di depan pagar... cuma diem. Mukanya pucat, bajunya kotor, dan... ada darah di dahinya."

Plak!

CARAPHERNELIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang