"Berjuang buat orang yang gak peduli sama lo itu kayak berenang ke tengah laut. Makin jauh, makin tenggelam sendiri."
- Anonymous
•
•
•
"Aduh, Non Keyla kok belum pulang dari pagi, ya?" Bi Lastri mondar-mandir di teras rumah, jemarinya meremas ujung celemek yang mulai basah oleh keringat. Langit sudah berangsur gelap, rona jingga menghilang digantikan kelamnya malam yang merayap pelan.
Jam dinding di ruang tamu berdenting enam kali, menandakan waktu Maghrib telah tiba. Namun, sosok Keyla belum juga muncul di balik pintu.
"Jangan-jangan dia kenapa-kenapa?" gumam Bi Lastri, suaranya lirih, hampir tenggelam oleh deru angin yang berembus pelan. Tatapannya terus mengarah ke luar pagar, mengintip setiap sudut jalanan yang mulai sepi. Tapi, harapannya pupus karena tak ada tanda-tanda kedatangan gadis itu.
"Telepon aja kali, ya?" bisiknya sambil buru-buru melangkah masuk.
Tangannya gemetar saat meraih ponsel yang tergeletak di atas laci ruang tamu. Ia mencari nama "Non Keyla" di daftar kontak, lalu segera menekan tombol panggil. Deringan terdengar pelan, tapi cukup menenangkan karena menandakan ponsel Keyla masih aktif.
Namun, setelah dua kali mencoba, panggilan itu hanya berujung pada nada sambung tanpa jawaban. Kecemasan Bi Lastri menggunung. Hatinya berdegup kencang, pikirannya melayang ke segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Keyla adalah segalanya baginya. Sudah seperti anak sendiri. Dan kini, gadis itu menghilang tanpa kabar.
---
Sementara itu, di taman kecil halaman rumah sakit, Keyla duduk sendiri di bangku kayu yang dingin. Langit malam berhiaskan bintang-bintang, tapi hatinya gelap penuh sesak oleh luka yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun.
Air mata terus mengalir tanpa henti, membasahi pipinya yang memerah. Jemarinya meremas kuat ujung rok, berusaha meredam tangis, tapi kenangan pahit akan ucapan Aryo sore tadi terus bergema di kepala.
"Kalau begitu, ini mungkin hari terakhir kamu bisa menemani anak saya,"
Kata-kata itu menusuk tanpa ampun, mencabik-cabik sisa kekuatan yang Keyla coba pertahankan. Rasanya seperti terjatuh ke dalam jurang tanpa dasar, dibiarkan melayang dalam kegelapan tanpa tahu kapan akan berhenti.
Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menengadah ke langit yang mulai gelap. Bintang-bintang bersinar di atas sana, tapi tak ada satu pun yang bisa mengusir kelam di hatinya.
Siapa sangka, orang yang dulu tampak begitu baik, ternyata menyimpan wajah lain yang lebih menakutkan?
Sreett...
Keyla tersentak. Tubuhnya menegang saat suara gesekan halus terdengar, disusul kehadiran seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Seorang pria berjaket hitam terlalu hitam hingga seakan menyatu dengan gelapnya malam.
Ia tidak bicara, hanya menatap Keyla dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Ternyata cantik juga," ucap pria itu akhirnya, suaranya serak, seperti sudah lama tidak digunakan.
Tangannya mulai meraba tangan milik gadis itu. Hingga berakhir ke daerah paha gadis itu.
PLAK!!
Suara tamparan menggema di taman yang sunyi. Keyla berdiri dengan napas tersengal, tangan kanannya masih bergetar setelah menampar wajah pria itu sekuat tenaga.
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAPHERNELIA (END)
Teen FictionSeorang gadis berusia 15 tahun, yang sudah dipaksa mandiri oleh keadaan. Kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia kemarin, Keyla Safira namanya, Hingga akhirnya, ada 2 seorang laki-laki datang dan membawa pelangi ke dalam hidupnya. Arsenio Dani...
