"Jangan biarin orang lain ganggu kedamaian lo, bahkan kalau itu keluarga sendiri."
- Arsenio Daniel Mahendra
•
•
•
Arsen yang hendak melangkah masuk ke dalam rumah tiba-tiba dihentikan oleh Jeck, yang berdiri di hadapannya dengan raut wajah penuh keraguan.
"Maaf, Tuan Arsen," ucap Jeck dengan nada pelan namun terdengar jelas kegugupannya. "Saya mendapat perintah dari Tuan Besar... Anda belum diizinkan masuk ke rumah saat ini."
"Belum boleh pulang? Ini rumah saya, Jeck," katanya dingin. Arsen memandang Jeck dengan tajam, ekspresinya menunjukkan kebingungan bercampur kesal.
"Maaf, Tuan. Saya hanya menjalankan perintah. Tuan Besar bilang... ada urusan penting yang tidak boleh diganggu."
"Urusan penting?" Arsen mengulangi dengan nada datar, matanya melirik ke arah sepatu high heels yang masih tergeletak di lantai. "Apa ada hubungannya sepatu ini dengan urusan itu?"
Jeck terdiam, tidak berani menjawab. Ia hanya menunduk, seolah berharap tanah di bawahnya bisa membawanya pergi dari situ.
Arsen sudah kehilangan kesabarannya. Tanpa menghiraukan ucapan Jeck, ia melangkah tegas ke arah pintu rumah, mendorong Jeck yang mencoba menghentikannya.
"Tuan Arsen, mohon jangan—" Jeck mencoba menghentikannya, tapi Arsen hanya melirik tajam, membuat Jeck terdiam di tempat.
Arsen terdiam di ambang pintu ruang kerja ayahnya, matanya terpaku pada sosok seorang wanita yang berdiri di dalam ruangan. Wanita itu mengenakan gaun elegan yang membungkus tubuhnya dengan sempurna, dengan rambut panjang yang tertata rapi. Ia tampak santai, berdiri di dekat meja kerja Aryo, seolah tempat itu sudah menjadi miliknya.
Melihat Arsen, wanita itu tersenyum tipis, senyuman yang terasa dingin namun penuh arti. Ia mendekat dengan langkah pelan namun anggun, hingga jaraknya hanya beberapa langkah dari Arsen yang masih mematung di tempat.
"Ini anak kamu, Mas?" ucap wanita itu, suaranya lembut. Ia menoleh ke arah Aryo, yang sedang berdiri di dekat jendela dengan ekspresi datar.
Aryo tidak langsung menjawab, hanya menatap Arsen sekilas sebelum kembali memalingkan pandangannya keluar jendela.
Wanita itu kembali menatap Arsen, matanya menelusuri wajah dan posturnya. "Sudah besar ya," lanjutnya, kali ini dengan nada yang terdengar seperti memuji. Tangan kanannya perlahan terangkat, menempel di dada Arsen, lalu mengelusnya dengan gerakan lembut tapi mencurigakan.
Arsen tersentak, mundur selangkah untuk menghindar. Tatapannya berubah menjadi lebih tajam, penuh rasa tidak nyaman dan kebingungan. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya tegas, nadanya penuh kewaspadaan.
Wanita itu hanya tertawa kecil, menarik kembali tangannya dengan anggun. "Maaf, aku hanya kagum." ucapnya, senyumnya tidak pernah pudar.
"Ghea, cukup," ucapnya tegas. Suaranya memotong suasana seperti pisau tajam.
Ghea menoleh ke Aryo, mengangkat alis sedikit, lalu tersenyum lagi. "Baiklah, Mas. Aku hanya bercanda," katanya sambil melangkah mundur perlahan.
"Apa semua ini, Pa? Siapa dia, dan kenapa dia bertingkah seperti ini?" tanyanya, suaranya naik setengah oktaf.
"Ini bukan urusanmu, Arsen. Pergilah!" Aryo hanya menghela napas panjang, menatap putranya tanpa banyak ekspresi.
"Urusanku? Ini rumahku juga!" balas Arsen, amarahnya akhirnya meledak.
"Arsen! Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak pulang malam ini?"
"Kau meminta, atau lebih tepatnya memaksa? Kau bahkan menyuruh Jeck menghalangiku. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?"
"Kau terlalu banyak bertanya untuk sesuatu yang bukan urusanmu," Aryo menatap putranya dengan tajam, sikapnya menunjukkan bahwa ia tidak ingin melanjutkan perdebatan.
"Maaf tuan, saya akan membawa Tuan Arsen pergi dari sini." Jeck dengan nafas yang tidak beraturan langsung menyeret Arsen keluar dari rumah itu.
Arsen menatap Jeck dengan mata yang penuh kebencian, tubuhnya tegang seperti pegas yang siap meluncur. "Lepasin!" teriaknya, suaranya serak menahan amarah yang memuncak.
Jeck sedikit mundur, tapi tetap berusaha menahan Arsen dengan kekuatan yang tersisa. "Tuan, saya hanya—"
"Gue bisa pergi dari sini sendiri, atau bahkan angkat kaki selamanya kalau perlu!" Arsen menggapai pergelangan tangan Jeck dengan kekuatan penuh, melepaskan diri dari cengkeramannya dan melangkah keluar.
Arsen melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berusaha melarikan diri dari segala yang terjadi di rumah itu.
***
PRANGG!
Kepingan kaca yang pecah berhamburan di lantai, suara dentuman keras itu memecah keheningan malam. Della, sang pemilik tangan yang ceroboh, berdiri terpaku, menatap kaca yang hancur dengan pandangan kosong. Di sekelilingnya, teman-temannya terperanjat, wajah mereka tercetak rasa khawatir dan bingung.
"Astaga, Della!" teriak Nana, suaranya tinggi, campuran antara terkejut dan cemas. Ia segera berlari mendekat, berusaha menenangkan sahabatnya yang jelas sudah kehilangan kendali.
Namun, Della tampaknya tidak mendengar apapun. Matanya kosong, mulutnya terkatup rapat, dan tubuhnya terlihat goyah, terhuyung-huyung. Pikirannya begitu kacau, seperti ribuan suara bergema di dalam kepalanya, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Tiba-tiba, tubuh Della runtuh ke lantai dengan suara jatuh yang terdengar keras. Nana langsung terbelalak, menjerit panik, "Della!"
Ketiga teman Della saling berpandangan dengan panik, tubuh mereka gemetar karena efek wine yang baru saja mereka minum. Untungnya, mereka baru saja meneguk satu gelas, sehingga tidak mabuk berat, namun perasaan pusing dan lelah mulai menyelimuti mereka.
Nana menatap Della yang tergeletak tak sadarkan diri, perasaan cemas membuncah di dadanya. "Gue... gue mendadak pusing." kata Nana dengan suara lemah, tangan memegang dahinya yang terasa berputar. Ia merasakan perutnya mual, dan seluruh tubuhnya terasa lemas.
"Jangan bilang gitu, Nana!" sahut Indah dengan panik, mencoba menstabilkan diri, meskipun wajahnya juga pucat. "Kita harus bawa Della ke rumah lo!"
Tapi saat mereka mencoba mengangkat Della, tubuh mereka semakin terasa berat, dan pusing yang mereka rasakan semakin mengganggu. Mereka hanya bisa berteriak bingung, sementara Della tetap terbaring tak bergerak di lantai.
"Harus gimana, sih?!" seru Lia, wajahnya sudah mulai berkerut menahan rasa takut yang semakin membesar. "Kita nggak bisa gini terus!"
Indah dengan cepat menunjuk ke ujung ruangan, di mana seorang pria duduk sendirian, tampak tenang meskipun tidak memesan wine atau ikut bergabung dengan keramaian di sekitarnya. "Coba lo cari bantuan dari pria yang di ujung sana!" ujarnya dengan nada terburu-buru.
Lia menoleh dan melihat pria yang dimaksud. Dia bisa merasakan sedikit ketegangan di dadanya saat matanya menangkap sosok itu. Pria yang cukup tampan, dengan wajah serius dan aura yang sedikit misterius. Meski ia tidak terlihat berbaur dengan kerumunan, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Lia merasa seolah-olah pria itu bisa diandalkan.
Dengan cepat, Lia merapikan rambut dan sedikit menyentuh pakaian yang dikenakannya, berusaha tampak lebih rapi sebelum berjalan mendekat. Hati Lia berdebar-debar, meskipun ia merasa sedikit canggung,
"Permisi, gue butuh bantuan lo," ucapnya, suaranya sedikit terputus-putus karena kegugupan yang mulai menguasai dirinya.
Arsen mendongak sejenak, menatap wajah Lia dengan sorot mata yang tampak acuh tak acuh. Namun, tak ada respons langsung dari pria itu. Setelah beberapa detik, ia hanya mengalihkan pandangannya kembali ke layar ponselnya, seolah-olah tidak mendengar apa yang baru saja Lia katakan.
"Lia, cepat!" suara Indah terdengar dari belakang, semakin menambah kegelisahan Lia.
Dengan hati yang berdebar, Lia memutuskan untuk berbicara lagi, kali ini dengan sedikit lebih berani. "Tolong, ini urgent," katanya, mencoba menarik perhatian Arsen dengan lebih serius. "Teman gue pingsan, kita butuh bantuan."
"Gak bisa nanti cewek gue, cemburu. So, i'm sorry."
To Be Continue...
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAPHERNELIA (END)
Novela JuvenilSeorang gadis berusia 15 tahun, yang sudah dipaksa mandiri oleh keadaan. Kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia kemarin, Keyla Safira namanya, Hingga akhirnya, ada 2 seorang laki-laki datang dan membawa pelangi ke dalam hidupnya. Arsenio Dani...
