29

25 10 8
                                        

"Kadang malam paling tenang bisa berubah jadi mimpi buruk dalam hitungan detik

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kadang malam paling tenang bisa berubah jadi mimpi buruk dalam hitungan detik."

- Keyla Safira




"Non, malam ini mau makan apa? Biar bibi masakin," tanya Bi Lastri dengan senyum hangat, mendekati kamar Keyla. Tangannya yang sudah sedikit berkeriput menggenggam pintu, dan matanya memancarkan kelembutan khas orang yang sudah berusia lanjut.

Keyla menoleh ke arah Bi Lastri, lalu bangkit dari tempat tidur untuk menghampirinya. Wajahnya yang cerah tersenyum simpul, memandang bibi yang telah lama merawatnya dengan penuh kasih sayang.

"Apa aja, Bi. Masakan bibi selalu enak kok," jawab Keyla dengan nada santai.

"Request atuh Non. Bibi pengen buatin makanan buat Non Keyla," katanya dengan nada menggoda, sambil melangkah lebih dekat ke Keyla.

Keyla menatap Bi Lastri dengan rasa sayang, tahu betul bahwa apapun yang dimasak oleh bibi, itu selalu terasa seperti makanan terbaik di dunia. "Hmm, kalau gitu... bisa masak ayam goreng sambel terasi, Bi?" tanyanya dengan nada penuh harap.

"Itu mah, saya jelas bisa Non. Sebentar saya buatin dulu."

Sembari menunggu makanan yang dibuatkan oleh Bi Lastri matang, Keyla memilih untuk merenung sejenak, jika dipikir-pikir sudah dua hari dirinya tidak menghubungi cowok yang kini sudah berbeda sekolah dengannya, Arsen.

Di sisi lain, Arsen melaju kencang di jalanan raya yang lengang, seolah malam itu adalah miliknya seorang. Keheningan kota memberi ilusi kebebasan, dan ia memanfaatkannya untuk menekan pedal gas lebih dalam. Mobilnya melesat dengan kecepatan tinggi, angin malam masuk dari jendela yang terbuka, mengacak-acak rambutnya.

Namun, di balik kecepatan itu, ada bahaya yang mengintai. Pikiran Arsen sedang tidak jernih, tubuhnya dipenuhi alkohol yang ia tenggak berlebihan di bar tadi. Kepalanya terasa berat, pandangannya sedikit kabur, tapi ia tetap memegang setir, seakan mabuknya bukan masalah.

"Lo udah biasa, harusnya ini bukan masalah!” gumamnya pelan, dengan suara yang hampir tenggelam oleh dentuman musik dari speaker mobil.

Sayangnya, malam yang ia anggap tenang berbalik menjadi bencana dalam sekejap. Sebuah tikungan tajam muncul terlalu cepat di hadapannya. Refleksnya terlambat. Ia panik, mencoba membanting setir untuk menghindar.

BRAKK!!

Mobilnya menghantam pembatas jalan dengan keras, membuat suara dentuman yang menggema di udara. Rem mobil berdecit panjang, roda-rodanya berputar liar. Tubuh Arsen terlempar ke depan, kaca mobil pecah berkeping-keping, berserakan di jalan. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga dunia di sekelilingnya berubah gelap tanpa peringatan.

Di tempat lain, Keyla duduk memandangi ponselnya. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan menggulir layar, tetapi kosongnya notifikasi dari Arsen membuat hatinya terasa aneh.

CARAPHERNELIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang