"Gue gak bisa marah kalau lo deket sama dia, tapi gue juga gak bisa bohong kalau gue cemburu."
- Keyla Safira
•
•
•
"Nah, sekarang lo mau pulang atau mau di sini?" tanya Prita, ikut duduk di sebelah Keyla.
"Kayaknya gue mau pulang aja deh, Prit. Gue khawatir sama Bibi gue." Keyla melepas jaket yang dipinjamnya, lalu menyodorkannya kembali ke Prita.
"E-eh... lo pake dulu aja jaket gue. Ini udah malem, nanti lo kedinginan," cegah Prita, menahan tangan Keyla.
"Lo sendiri juga kedinginan, tuh. Gue balikin aja, gak enak," ujar Keyla, tetap menyodorkan jaket itu.
"No! Pake aja," Prita menyilangkan tangan di dada. "Gue udah biasa keluar tanpa jaket, santai aja."
"Prit..."
"Udah, pake aja. Nanti kalau lo sakit, gue yang kena jitak Arsen," kata Prita sambil tertawa.
Keyla ikut tertawa kecil. "Haha... Seandainya dia udah sadar, gue pasti seneng banget."
Namun, senyumnya perlahan memudar, suaranya berubah sendu. Prita langsung merasa bersalah karena tanpa sadar mengungkit nama Arsen.
"Kita doain bareng, semoga dia cepet pulih, Key..." katanya lembut.
Keyla mengangguk pelan.
"Yaudah, kalau gitu gue anter lo ke depan," ujar Prita, merangkul Keyla sebelum membawanya turun dari rooftop menuju gerbang rumah sakit.
Saat mereka menuruni tangga, pandangan Keyla tak sengaja tertuju ke arah kamar Arsen. Kebetulan sekali, kamar itu memang dekat dengan rooftop.
"Prit... tunggu deh. Itu para penjaga udah gak ada?" bisiknya sambil mencolek lengan Prita.
Prita langsung menoleh ke arah kamar Arsen. Benar saja, tak ada satu pun penjaga di sana.
"Lah iya. Bukannya tadi mereka masih ada?" gumamnya.
Keyla menatap Prita penuh arti.
"Lo mau ke sana, Key? Ini kesempatan lo," bisik Prita.
Keyla mengangguk cepat, lalu berjalan pelan menuju kamar Arsen, takut kalau-kalau penjaga itu muncul tiba-tiba.
Begitu sampai di depan kamar, ia mengintip melalui pintu kaca. Namun, detik berikutnya, langkahnya terhenti.
Di dalam kamar, terlihat seorang cewek berdiri di samping ranjang Arsen.
Dahi Prita langsung berkerut. "Siapa tuh cewek?"
Bukan masalah siapa cewek yang ada di dalam kamar itu. Yang membuat Keyla terdiam adalah kenyataan bahwa Arsen sudah sadar... tapi bukan dirinya yang pertama melihatnya.
Dadanya terasa sesak. Ia berharap bisa menyaksikan momen itu lebih dulu, mengucapkan sesuatu begitu matanya terbuka. Tapi nyatanya, ada orang lain yang lebih dulu di sana.
"G-gue... gak jadi deh ketemu Arsen," ucapnya lirih, matanya menunduk.
"Lah, kok gitu? Itu Arsen udah sadar, loh. Lo gak mau ketemu dia?" Prita menatap wajah Keyla yang terlihat murung.
Keyla memaksakan senyum kecil. "Gapapa, gue udah capek. Mungkin besok aja gue nemuin dia, Prit."
Prita terdiam sejenak, lalu tiba-tiba melangkah cepat ke arah pintu kamar Arsen.
"Lo tunggu sini!" titahnya.
"Eh, Prit-!"
Tanpa memberi Keyla kesempatan mencegahnya, Prita sudah menyelonong masuk ke kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAPHERNELIA (END)
Novela JuvenilSeorang gadis berusia 15 tahun, yang sudah dipaksa mandiri oleh keadaan. Kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia kemarin, Keyla Safira namanya, Hingga akhirnya, ada 2 seorang laki-laki datang dan membawa pelangi ke dalam hidupnya. Arsenio Dani...
