36

13 4 11
                                        

"Gue tahu gue salah, tapi gue juga tahu gue gak bisa diam aja."

- Lorenzo Abintang Givandra



"Minggir, gue mau masuk!" bentak Keyla, mendorong salah satu penjaga dengan kasar.

Tubuhnya berhasil menerobos masuk sebelum pria-pria berbadan kekar itu sempat menahannya lebih lama. Napasnya memburu, dadanya naik turun akibat emosi dan kepanikan yang masih menguasai dirinya.

Begitu melihat sosok Arsen di atas ranjang rumah sakit, jantungnya sedikit lebih tenang. Selang oksigen sudah terpasang sempurna di hidung pria itu, napasnya stabil, meski wajahnya tetap pucat.

Namun, sebelum Keyla bisa mendekat lebih jauh—

PLAK!

Tamparan keras mendarat telak di pipinya. Kepala Keyla tersentak ke samping, rasa panas menjalar di kulitnya, meninggalkan perih yang menyengat.

"Nona sangat lancang!" suara berat pria itu terdengar tajam.

Keyla membelalak, matanya menyala penuh kemarahan. Rahangnya mengatup rapat, menahan emosi yang siap meledak.

"LO NAMPAR GUE?!" bentaknya, langsung memberontak, mendorong pria itu dengan kasar. "Gue cuma mau lihat keadaan Arsen! Emang salah gue di mana, hah?!"

Penjaga itu tetap berdiri tegak, tidak terpengaruh oleh luapan emosi Keyla.

"Perintah tetaplah perintah," jawabnya dingin. "Nona tidak diizinkan berada di sini."

Keyla mendengus tajam. "Lo pikir lo siapa, hah?! Rumah sakit ini tempat umum! Semua orang berhak masuk!"

"Tidak untuk Nona," balas pria itu dingin. "Kami hanya menjalankan tugas."

Keyla bergetar menahan amarah. Ia melirik sekilas ke arah Arsen yang masih terbaring tak sadarkan diri. Pikirannya berputar cepat, mencoba mencari cara untuk bisa tetap di sini tanpa harus berurusan lebih jauh dengan para penjaga itu.

Tapi... sepertinya sudah terlambat.

Penjaga lainnya mulai bergerak, menghalangi langkahnya, bersiap mengusirnya keluar.

"GUE GAK AKAN KELUAR SEBELUM GUE TAU ARSEN BENERAN BAIK-BAIK AJA!" teriaknya, mencoba bertahan di tempat.

Namun, tangan kekar para penjaga itu mulai meraih lengan dan bahunya, memaksa Keyla bergerak mundur.

Saat tangan para penjaga itu hampir mencengkeram bahunya, sebuah suara lantang tiba-tiba menggema di koridor.

"JANGAN SENTUH DIA!"

Keyla terkejut. Kepalanya menoleh cepat, menemukan sosok Rey berdiri tak jauh dari sana.

"Rey!" tanpa berpikir panjang, Keyla berlari ke arahnya, tubuhnya refleks merangkul cowok itu seolah menemukan perlindungan.

Para penjaga itu saling pandang, ragu sejenak sebelum salah satu dari mereka akhirnya angkat bicara. "Nona ini sudah membuat keributan. Tuan Aryo tidak mengizinkan—"

"Rey, kita gak bisa pergi gini aja. Gue harus lihat Arsen!" Keyla masih menggenggam jaket Rey dengan erat, matanya mendongak menatap cowok itu.

"Gue tahu."

"Gue bakal cari cara lain. Sekarang kita pergi dulu." Dia menoleh ke para penjaga lagi, matanya berkilat penuh perhitungan.

"Tapi—"

"Percaya sama gue, Key."

***

Keesokan harinya…

CARAPHERNELIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang