40 (END)

17 6 15
                                        

"Dulu, gue tahu kemana harus pulang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Dulu, gue tahu kemana harus pulang. Sekarang gue cuma tahu rasanya tersesat."

- Keyla Safira



Sebulan telah berlalu...

Keyla dan Arsen masih bertahan dalam hubungan yang tak bisa diumumkan ke dunia, hubungan backstreet yang menyesakkan. Mereka pacaran, tapi hanya bisa bertukar sapa lewat pesan singkat, suara lirih di telepon. Semua karena Aryo.

Sejak ponsel lamanya disadap oleh sang ayah, Arsen membeli handphone baru secara diam-diam. Hanya ponsel itulah yang jadi jembatan ia dan Keyla—tempat di mana rindu bisa dititipkan, dan cinta bisa dijaga, walau dalam senyap.

Pagi itu, Arsen hendak pergi ke markas. Ia menyambar jaket, lalu menoleh ke meja.

Alisnya langsung bertaut.

“Handphone gue mana, ya?” gumamnya, mulai meraba permukaan meja. “Tadi masih gue taruh sini, kok…”

Ia membuka laci, mengobrak-abrik isi tas, bahkan memeriksa kolong tempat tidur. Tapi ponsel barunya hilang.

Detik berikutnya, suara berat yang tak asing lagi menyelinap ke dalam ruangan.

“Kamu nyari ini?”

Arsen membeku. Ia menoleh dengan gerakan pelan, seolah tubuhnya menolak menerima kenyataan.

Dan di sana, berdiri Aryo—sang ayah, dengan handphone baru Arsen tergenggam erat di tangannya.

“Hebat juga kamu,” katanya sambil melangkah masuk, mata menatap tajam. “Satu bulan bisa bohongin Papa dengan ponsel ini. Kamu pikir Papa nggak bakal tahu, hah?”

Arsen menelan ludah. Seluruh tubuhnya menegang. Kali ini, tidak ada jalan keluar. Bukan hanya karena ponselnya ditemukan tapi karena semua tentang Keyla, mungkin… sudah terbongkar sepenuhnya.

“Jeck, bisa kamu bacain seluruh isi chat dia dengan Keyla? Saya mau tahu anak ini ngapain aja dengan gadis itu,” ucap Aryo.

Jeck, yang berdiri tegak di samping, mengangguk patuh. Ia mengambil ponsel itu, menekan tombol daya, lalu mencoba mengakses layar.

Namun detik berikutnya, ia terhenti.

“Maaf, Tuan,” ujarnya pelan, “handphone-nya dikunci dengan password.”

Aryo menggeram. Rahangnya mengeras, dan untuk sesaat ia hanya berdiri diam, menahan amarah yang sudah naik ke ubun-ubun. Matanya memandang tajam ke arah Arsen, yang kini berdiri kaku di pojok ruangan dengan tangan mengepal.

“Beraninya kamu kunci ponsel ini dari ayahmu sendiri...” desis Aryo penuh tekanan.

“Kamu pikir Papa nggak berhak tahu apa yang kamu sembunyikan?”

CARAPHERNELIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang