"Selama jantung dia masih berdetak, gue akan terus percaya kalau keajaiban itu ada."
- Keyla Safira
•
•
•
Malam sudah merambat ke pukul tiga pagi, dan Bintang baru saja mengantar Keyla pulang ke rumah. Sejak di mobil, gadis itu terus diam, menatap kosong ke luar jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Udah sampe, Key," ucap Bintang pelan, memecah keheningan.
Keyla tersentak, buru-buru menoleh ke arah cowok itu. Tangannya gemetar saat merapikan tali tas, seolah butuh sesuatu untuk mengalihkan kegugupannya.
"M-makasih, Kak... Maaf aku melamun dari tadi," lirihnya, suaranya hampir tenggelam dalam udara malam yang dingin.
Bintang hanya mengangguk, senyumnya tipis. "Nggak apa-apa. Kamu masuk aja, ya. Hati-hati."
Keyla mengangguk cepat. "Kalau gitu, aku duluan, Kak."
Baru saja gadis itu melangkah menjauh, suara Bintang kembali menghentikannya.
"Key."
Keyla menoleh, menatap cowok itu dengan tatapan bingung.
"Kalau besok pagi mau ke rumah sakit, kamu bisa hubungin kakak. Dan kakak bakal anterin kamu ke sana."
Ada ketulusan yang terpancar dari suara Bintang, membuat hati Keyla terasa sedikit lebih hangat di tengah luka yang masih menganga. Ia mengulas senyum kecil, mengangguk cepat sebagai jawaban, lalu berterima kasih sekali lagi sebelum akhirnya masuk ke rumah.
Begitu pintu tertutup, sosok Bi Lastri muncul dari balik tirai ruang tamu. Perempuan paruh baya itu mengenakan mukena, jelas baru saja selesai shalat tahajud.
"Loh, Non baru pulang?" tanyanya lembut, matanya menatap Keyla penuh kekhawatiran.
Keyla mengusap matanya yang sembab, berusaha tersenyum meski bibirnya bergetar. "I-iya, Bi. Bibi habis shalat?"
Bi Lastri mengangguk, lalu meraih tangan Keyla dan menggenggamnya erat. "Iya, Non. Kamu kenapa? Mukamu pucet banget."
Dan saat itulah, tembok pertahanan Keyla runtuh lagi. Air mata yang baru saja surut kembali mengalir, jatuh tanpa bisa ia kendalikan.
Bi Lastri terkejut melihat Keyla tiba-tiba menangis. Ia buru-buru merangkul gadis itu ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya lembut sambil berusaha menenangkan.
"Sabar, Non.. Coba cerita sama Bibi, siapa tahu bisa lega," bisik Bi Lastri dengan suara penuh kasih sayang.
Keyla terisak dalam pelukan bibinya, tubuhnya bergetar hebat. Butuh waktu beberapa menit sampai tangisnya mereda, meski sesekali ia masih terisak pelan. Bi Lastri sabar menunggu, membiarkan Keyla meluapkan emosinya tanpa terburu-buru memaksa cerita.
Setelah napasnya sedikit lebih teratur, Keyla mengangkat wajahnya yang basah air mata. Ia mengusap matanya dengan ujung lengan bajunya, lalu mencoba bicara meski suaranya serak.
"Aku... Aku habis dari rumah sakit, Bi," ucapnya lirih.
Bi Lastri mengernyit. "Rumah sakit? Siapa yang sakit, Non?"
Keyla menunduk, menatap lantai sambil memainkan ujung bajunya. "Temen aku, Bi... Namanya Arsen."
Bi Lastri mengangguk, meski jelas ia belum mengenal sosok yang disebutkan Keyla. "Arsen itu siapa? Temen sekolah, ya?"
Keyla menggigit bibir, seolah ragu untuk melanjutkan cerita. Tapi akhirnya ia menghela napas panjang, memilih untuk jujur pada Bi Lastri yang sudah seperti ibu sendiri baginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CARAPHERNELIA (END)
Novela JuvenilSeorang gadis berusia 15 tahun, yang sudah dipaksa mandiri oleh keadaan. Kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia kemarin, Keyla Safira namanya, Hingga akhirnya, ada 2 seorang laki-laki datang dan membawa pelangi ke dalam hidupnya. Arsenio Dani...
