35

19 5 9
                                        

"Saya sudah kehilangan segalanya. Kalau saya harus kehilangan lebih banyak lagi, maka saya akan memastikan mereka juga merasakan hal yang sama."

- Aryo Rafendi



Pagi itu, Bintang duduk gelisah di sudut kamarnya. Matanya nanar menatap tumpukan barang yang berserakan — mencoba mencari tahu apa yang bisa dijual untuk melunasi sisa utangnya pada Noel.

Ting!

Notifikasi ponselnya berbunyi, memecah keheningan. Sebuah pesan singkat muncul dari nomor tak dikenal.

+62872xxxxxxxx
Inget, waktu lo tinggal 2 jam.
Bayar, atau taruhannya ini?
[Foto]

Dada Bintang berdegup kencang. Ia menghela napas kasar, sudah bisa menebak siapa pengirimnya. Namun, rasa penasaran menggerogoti dirinya. Apa yang Noel kirim kali ini?

Saat foto itu terbuka, tubuh Bintang langsung menegang. Keyla. Duduk sendirian di taman semalam, tanpa sadar sedang menjadi objek ancaman.

Tanpa pikir panjang, Bintang langsung menekan tombol panggilan, rahangnya mengeras saat suara Noel terdengar di ujung sana.

"Yo, what’s up? Udah ada duitnya?"

"JANGAN PERNAH SEKALI-KALI LO SENTUH DIA, BANGSAT!!" teriak Bintang, suaranya menggelegar hingga memenuhi ruangan. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah, dan napasnya memburu tak terkendali.

Di seberang sana, Noel malah terkekeh pelan, puas mendengar emosi Bintang meledak.

"Oh, kalem dong, Bro. Gue cuma pegang pahanya dikit kok... Lembut banget, ya?" ucapnya ringan, seolah yang baru ia katakan bukanlah racun yang mengoyak hati Bintang.

"ANJ*NG LO, NOEL!!" bentak Bintang, suaranya parau karena berteriak terlalu keras. Tangan kanannya bergetar, nyaris meremukkan ponsel yang ia genggam.

Darahnya mendidih. Amarah membakar seluruh tubuhnya hingga rasanya ia bisa meledak detik itu juga.

"Gak usah banyak bacot. Lunasin utang lo secepetnya."

Setelah Noel melontarkan kalimat itu dengan dingin, panggilan langsung terputus tanpa ampun.

Bintang terduduk, napasnya memburu. Jantungnya berpacu liar, tapi bukan karena takut melainkan amarah yang menggerogoti dirinya dari dalam. Dengan tangan gemetar, ia buru-buru mencari kontak Keyla dan segera menekan tombol panggilan.

Tuut... tuut... tuut...

Tidak ada jawaban. Hanya deringan kosong yang menggantung di udara, membuat kecemasannya semakin menyesakkan.

Tanpa pikir panjang, Bintang langsung bangkit. Ia masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya asal-asalan, lalu bergegas keluar rumah. Mobilnya melesat membelah jalanan raya yang kebetulan masih sepi. Namun, detik demi detik terasa menyiksa, seakan waktu mempermainkan ketakutannya.

Sesampainya di rumah sakit, Bintang langsung berlari tergesa-gesa menuju ruang Arsen, napasnya tersengal-sengal saat tiba di depan pintu. Dengan kasar, ia membuka knop pintu dan melangkah masuk.

Arsen masih terbaring di ranjang, wajahnya pucat, napasnya stabil dengan bantuan selang oksigen. Namun, yang membuat Bintang semakin kalut adalah ketiadaan Keyla.

Netra Bintang menyapu setiap sudut ruangan, tapi gadis itu tidak ada. Rahangnya mengeras, dan senyum yang tadinya menghilang kini kembali muncul senyum yang tidak seharusnya ada di situasi seperti ini.

CARAPHERNELIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang