Seorang gadis berusia 15 tahun, yang sudah dipaksa mandiri oleh keadaan. Kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia kemarin, Keyla Safira namanya, Hingga akhirnya, ada 2 seorang laki-laki datang dan membawa pelangi ke dalam hidupnya.
Arsenio Dani...
"Bahkan kalau semesta nyuruh gue buat ninggalin lo, gue tetap milih lo.”
- Arsenio Daniel Mahendra
• • •
"Kenapa bokap gue bisa kenal sama lo?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keyla terdiam. Pandangannya menerawang ke langit senja yang mulai meredup, seolah berharap angin bisa membawa jawaban yang tak sanggup ia ucapkan. Perlahan, ia menoleh, menatap Arsen yang kini berdiri di hadapannya dengan sorot mata penuh tanda tanya.
"Gue rasa... lo gak perlu tahu soal ini, Sen," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.
Ekspresi Arsen berubah seketika. Rahangnya mengeras, dan napasnya terdengar lebih berat
"Kenapa gue gak boleh tahu, hah? Ada yang lo sembunyiin dari gue?!" Suaranya meninggi, tangan kanannya terangkat, menyentuh dagu Keyla dan memaksa gadis itu untuk menatap matanya langsung.
"Liat gue, Key."
Keyla menatap balik, tapi matanya berkaca-kaca. Air mata mulai jatuh, membasahi pipinya yang pucat. Ia tak bisa berkata-kata, hanya tatapan penuh luka yang tersisa.
Begitu melihat air mata itu, Arsen sontak terdiam. Kemarahan di wajahnya perlahan luntur, tergantikan rasa bersalah yang menyelusup tanpa izin. Ia menarik tangannya, seolah sadar betapa kasar sikapnya barusan.
"M-maaf… lo boleh tampar gue, Key. Gue udah bikin lo nangis." Arsen menunduk, menahan beban rasa bersalah yang menghimpit dadanya. Ia tak sanggup menatap mata sedih Keyla yang begitu tulus namun terluka.
Cupp...
Tanpa peringatan, Keyla menarik wajah Arsen dan mengecup bibirnya. Tangannya meremas kaos hitam milik cowok itu. Arsen yang awalnya terkejut, akhirnya membiarkan dirinya tenggelam dalam momen itu—momen yang terasa menyakitkan sekaligus menenangkan.
Begitu ciuman itu terhenti, Keyla menatapnya lemah.
"K-kenapa... semuanya harus berakhir kayak gini?" bisiknya lirih, nyaris patah.
Arsen mengatupkan rahangnya. Perasaan tak mengerti, ditambah dengan semua teka-teki yang Keyla simpan, membuat emosinya kembali memuncak.
"Gue gak ngerti maksud lo, Key. Lo gak pernah jelasin apa pun ke gue! Jadi gimana gue bisa ngerti perasaan lo sekarang, hah?!"
Keyla membuang napas berat. Air matanya masih mengalir, tapi kali ini suaranya meledak.
"BOKAP LO SAMA BOKAP GUE MUSUH! PUAS?!"
"A-apa...?" Arsen nyaris berbisik.
“Kalau lo mau jauhin gue, gakpapa,” ucap Keyla, suaranya lirih namun jelas. Ia berdiri membelakangi Arsen, menatap kosong ke depan seolah sedang berbicara pada angin.