Seorang gadis berusia 15 tahun, yang sudah dipaksa mandiri oleh keadaan. Kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia kemarin, Keyla Safira namanya, Hingga akhirnya, ada 2 seorang laki-laki datang dan membawa pelangi ke dalam hidupnya.
Arsenio Dani...
Hai, author comeback... Ahay! So, jadi gimana eps kemarin? Pasti diantara kalian banyak yang sedih karena kepergian Arsen tercintaa.
Jawab aja iya, gak usah gengsi lo!😡 Tapi aku punya kabar gembira kok Ehmm apa yaaa?!!!
Betuls, aku kasih kalian extra chap yang mungkin mengobati rasa sedih kalian yang berkepanjangan itu, wkwk. Ayo berterimakasih sama author yang cantek ini😚
Happy Reading ~
• • •
"Katanya kalo kita mencintai seseorang, juga berarti tahu kapan harus merelakan. Dan sekarang, waktunya gue merelakan dia untuk selama-lamanya."
- Keyla Safira
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Maafin gue, Sen.."
Kata-kata itu berulang-ulang di kepala Keyla, seolah menjadi mantra yang tak bisa dia lepaskan. Perasaan bersalah yang menghimpit dada, membuatnya sulit bernapas. Dia sudah mencoba untuk menenangkan diri, tapi setiap kali memikirkan Arsen, hati ini seolah teriris lebih dalam.
Di kursinya, Keyla meremas tangannya, mencoba menahan air mata yang sudah lama ingin tumpah. Kepergian Arsen membuat dunia terasa sepi. Apalagi saat dia ingat bagaimana Arsen melindunginya menjadi perisai di depan tubuhnya, sampai-sampai harus mengorbankan nyawanya sendiri.
"Gue gak bisa ngeliat lo waktu dimakamin, karena gue gak sanggup."
Mungkin itu alasan utamanya. Jika dia hadir di pemakaman Arsen, dia tahu rasa sakit itu akan datang lagi, lebih dalam dari sebelumnya. Dia merasa tak sanggup untuk melihat Arsen yang terbaring diam, sementara dia masih hidup dan harus terus melanjutkan hidup tanpa dia di sisi.
"Mungkin, dengan pergi ke Paris... gue bisa lupain semua tentang kita."
Keputusan itu datang begitu tiba-tiba. Keyla tahu, dengan segala perasaan yang menyakitkan, dia butuh jarak. Paris, sebuah kota yang penuh dengan kenangan akan cinta dan keindahan. Mungkin di sana, dia bisa menemukan bagian dari dirinya yang hilang. Mungkin di sana, dia bisa belajar untuk melupakan Arsen. Atau setidaknya, melupakan kenangan yang menghantuinya setiap saat.
Pemandangan di luar jendela pesawat mulai berubah. Lampu-lampu kota yang bersinar di kejauhan seakan menyambut kedatangannya. Pesawat itu terbang melalui awan yang gelap, membawa Keyla menuju tempat yang jauh dari semua ingatannya.
"Para penumpang yang terhormat, pesawat sebentar lagi akan mendarat di Bandara Internasional Charles de Gaulle, Paris. Mohon kenakan sabuk pengaman Anda, tegakkan sandaran kursi, dan pastikan meja lipat berada di posisi semula. Terima kasih atas perhatian Anda."