37

20 6 11
                                        

"Temen itu bukan cuma buat ketawa bareng, tapi juga buat dengerin, buat nenangin, dan buat ada waktu lo butuh."

- Prita Satvika Nindita



"Penawaran apa?"

Bintang masih ingat jelas percakapan sore tadi, hingga kini ia berdiri di lobi sebuah hotel bersama seorang gadis yang baru dikenalnya. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di hotel dengan seorang cewek, terlebih lagi statusnya masih seorang pelajar SMA.

"Selamat malam, selamat datang di Hotel Serayu. Ada yang bisa kami bantu?" suara ramah resepsionis menyambut mereka.

"E-eh, kita mau pesan kamar, ada yang tipe double bed?" tanya gadis di sebelahnya dengan nada santai.

Resepsionis itu tersenyum tipis sebelum memeriksa layar komputernya. "Kebetulan sekali, kamar dengan tipe double bed hanya tersisa satu di hotel ini."

"Baik, saya pesan satu kamar," jawab gadis itu tanpa ragu.

Bintang mengepalkan tangannya di saku jaket, berusaha menahan rasa tidak nyaman yang menggelayutinya sejak tadi.

"Sebelum saya berikan kuncinya, boleh tunjukkan kartu identitas?"

Bintang menahan napas, sementara gadis itu dengan santai mengeluarkan kartu identitasnya dari dompet.

"Ini, Kak."

Bintang melirik sekilas ke arahnya, lalu membuang napas berat. Gue gak percaya gue kejebak di sini sama dia. Kalau bukan karena duit, gue ogah banget!

"Baik, ini kuncinya. Kamar nomor 310. Jika membutuhkan bantuan, silakan hubungi resepsionis melalui telepon yang tersedia di kamar, Kak."

Bintang menerima kunci itu dengan enggan, sementara gadis di sebelahnya tetap tenang seolah ini hal yang biasa. Tanpa banyak bicara, mereka berjalan menuju lift dan menekan tombol lantai 4.

Saat pintu lift tertutup, suasana mendadak hening. Tak ada orang lain di dalam selain mereka berdua. Bintang menelan ludah, merasa canggung di tengah keheningan yang tiba-tiba terasa begitu menyesakkan.

"Lo yakin udah siap? Gak nyesel kan sama pilihan lo sendiri?" Gadis itu melirik ke arahnya, lalu menyunggingkan senyum tipis penuh arti.

Bintang mengalihkan pandangan, menghela napas panjang. Dalam hati, ia tahu jawabannya.

Pintu lift terbuka, menampilkan lorong hotel yang sepi dan diterangi lampu temaram. Bintang melangkah keluar dengan enggan, sementara gadis di sebelahnya terlihat santai, seolah tak ada beban sedikit pun.

Mereka berhenti di depan kamar 310. Bintang memasukkan kunci ke slot, mendengar bunyi klik pelan sebelum gagang pintu bisa diputar. Begitu pintu terbuka, aroma lembut lavender dari pengharum ruangan menyambut mereka.

Bintang melangkah masuk lebih dulu, matanya langsung tertuju pada tempat tidur double bed yang tertata rapi di tengah ruangan. Gadis itu masuk tak lama setelahnya, menutup pintu di belakang mereka. Ia bersandar santai di daun pintu, menatap Bintang dengan tatapan tajam yang sulit dibaca.

"Gue mau ganti baju. Lo siapin mental aja." Ghea melangkah menuju kamar mandi yang terletak di sudut dekat jendela.

"Sebenernya kita mau ngapain sih?!" serunya, menghentikan langkah Ghea tepat di depan pintu kamar mandi.

Ghea menoleh sekilas, senyum smirk tersungging di bibirnya. "Liat sendiri aja."

Ia membuka pintu, tapi sebelum masuk, ia kembali berbicara, kali ini dengan nada lebih santai.

CARAPHERNELIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang