32

28 9 15
                                        

"Lo nggak perlu senjata buat bunuh orang. Kadang, lo cuma perlu bikin mereka percaya sama lo."

- Lorenzo Abintang Givandra




"APA?!" Aryo membentak, suaranya menggema di dalam mobil yang melaju kencang.

"Kenapa kamu baru ngasih tahu saya sekarang, hah?!" Matanya membelalak, napas memburu, sementara jemarinya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-bukunya memutih.

Jeck menelan ludah, mencoba menjaga ketenangannya meski suara Aryo menusuk telinga. "M-maaf, Tuan... Pihak rumah sakit sudah menghubungi semalam, tapi ponsel Tuan tidak bisa dihubungi."

"Saya butuh istirahat! Wajar kalau ponsel saya mati!" kilahnya, seakan mencari pembenaran atas kelalaiannya.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di area parkir rumah sakit. Aryo keluar tergesa-gesa, langkahnya berat dan dipenuhi kecemasan yang disembunyikan di balik wajah angkuhnya. Rumah sakit tampak ramai, penuh dengan orang-orang yang hilir-mudik, tapi bagi Aryo, semuanya terasa buram.

Begitu masuk ke lobi rumah sakit, mata Aryo langsung menyapu ruangan, mencari petunjuk ke arah ICU.

"Di mana ruangannya?!" bentaknya tanpa menoleh ke Jeck.

Jeck segera maju, menunjukkan arah dengan tangan gemetar. "Di lantai tiga, Pak. Kamar ICU nomor lima."

Tanpa buang waktu, Aryo langsung bergegas ke lift. Perjalanan ke lantai tiga terasa seperti seabad baginya, jantungnya berdebar kencang, tapi gengsi masih mengikat emosinya erat-erat.

"Om.."

Begitu melihat Aryo tiba, teman-teman Arsen yang sudah menunggu langsung berdiri. Bukan hanya Rey dan Mahen, kini Glen dan Prita juga ada di sana. Wajah mereka lelah, tapi tatapan mereka tetap penuh kekhawatiran.

Satu per satu, mereka menyalami Aryo dengan sopan. Tidak ada yang berani bicara lebih dulu, seolah takut ucapan mereka malah memperburuk suasana.

“Jadi, kalian ini teman-temannya Arsen?” tanyanya, suaranya dingin meski terdengar sedikit gemetar.

Rey mengangguk. “Iya, Om. Saya Rey, ini Mahen, Glen, sama Prita.”

Aryo mengangguk pelan, tapi bibirnya menyunggingkan senyum sinis.

“Pantas saja,” gumamnya, tawa pahit lolos dari tenggorokannya. “Nggak heran Arsen jadi begini. Kalau bergaul sama anak-anak berandal kayak kalian, ujung-ujungnya ya pasti celaka.”

Mahen mengepalkan tangan, berusaha menahan diri. Glen menatap lantai, sedang Prita mengigit bibirnya kuat-kuat untuk mengusir rasa sakit yang menjalar ke dadanya.

Rey mengangkat wajah, menatap Aryo lurus-lurus meski matanya memerah. “Om salah paham. Geng kami memang suka motoran, tapi kami nggak pernah balapan liar atau bikin onar. Kami cuma... temen Arsen pas dia lagi ngerasa sendirian.”

“Sendirian?” desis Aryo, suaranya bergetar. “Hidup Arsen itu udah saya cukupi semuanya. Dia nggak pernah kekurangan apa-apa!”

Prita melangkah maju, menatap Aryo tanpa gentar. “Tapi, bagaimana dengan kasih sayang, Om?” ucapnya lirih, menusuk tepat ke jantung.

Aryo terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, tapi tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Tanpa menjawab, ia berbalik dan melangkah masuk ke ruangan Arsen.

***

Bintang sudah pulang tiga puluh menit lalu, setelah mengantarkan Keyla ke rumah sakit. Tapi pikirannya masih tertinggal di sana bersama gadis yang duduk di samping ranjang Arsen, menggenggam tangan cowok itu dengan tatapan penuh kekhawatiran yang sukses mengaduk-aduk hatinya.

CARAPHERNELIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang