• CHAPTER 07

1.7K 97 13
                                        

-CHAPTER 07-
(CHECK UP)

-

Di dalam kamar mandi yang dingin dan lembab, Nayra terduduk bersandar di dinding. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dinginnya lantai keramik, tetapi juga karena rasa sakit fisik dan emosional yang begitu mendalam. Air mata mengalir tanpa henti di pipinya, menetes ke lantai seperti hujan yang tak berkesudahan. Ia mencoba mengetuk pintu sekali lagi, tapi usahanya sia-sia. Davian tidak peduli.

"Kenapa hidupku jadi seperti ini, Ma..." isaknya pelan, merasakan kerinduan mendalam kepada sosok yang dulu selalu menjadi tempatnya bersandar.

Seiring waktu, tangisannya melemah. Tubuhnya yang kelelahan perlahan menyerah, dan ia akhirnya tertidur dengan posisi melingkar di lantai kamar mandi.

♡♡♡

Dalam tidurnya, Nayra merasakan kehangatan yang begitu familiar. Ia membuka matanya perlahan, mendapati dirinya berada di sebuah taman yang indah. Langit biru cerah dengan awan putih yang menggumpal seperti kapas. Angin sepoi-sepoi meniup lembut rambutnya. Di depannya, seorang wanita berdiri, tersenyum penuh kasih.

"Mama?" suara Nayra bergetar, matanya membulat tak percaya.

Wanita itu adalah mamanya, yang sudah lama pergi meninggalkannya. Dengan langkah perlahan, mama Nayra mendekat, membuka tangannya lebar-lebar untuk menyambut anak perempuannya.

Nayra berlari ke arah mamanya, memeluknya erat. Aroma wangi khas yang selalu ia rindukan terasa begitu nyata.

"Mama... Nay kangen banget sama Mama..."

Mama Nayra mengelus lembut rambut Nayra. "Mama juga kangen sama kamu, Nak. Tapi Mama di sini karena kamu butuh kekuatan."

Nayra mulai menangis dalam pelukan mamanya. "Aku nggak kuat, Ma... Aku capek... Aku takut... Aku cuma pengen semua ini berakhir."

Mama Nayra menarik wajah Nayra, menatapnya dengan mata penuh cinta dan ketegasan.

"Dengar, Nak. Kamu adalah anak Mama yang kuat. Kamu nggak boleh menyerah. Ada nyawa yang kamu bawa di tubuhmu. Mereka butuh kamu untuk bertahan."

Nayra menggeleng, air matanya terus mengalir. "Aku nggak tahu harus gimana, Ma. Aku sendirian..."

Mama Nayra tersenyum lembut, mencium kening Nayra. "Kamu tidak sendirian. Mama akan selalu ada di hatimu. Dan kamu punya kekuatan lebih dari yang kamu sadari. Percayalah pada dirimu sendiri, Nayra."

Pelukan itu begitu hangat dan menenangkan. Nayra ingin tinggal di sana, di pelukan mamanya, selamanya. Tapi mama Nayra melepaskan pelukannya perlahan.

"Kamu harus bangun, Nak. Hadapi semuanya. Jadilah kuat. Mama selalu bersamamu, dalam setiap langkahmu."

♡♡♡

Suara pintu kamar mandi yang berderit membuat Nayra tersentak. Ia membuka matanya, menyadari bahwa ia masih terbaring di lantai kamar mandi. Cahaya redup dari lampu kamar mandi menusuk matanya yang sembab.

Pintu itu terbuka, dan di sana berdiri Davian. Wajahnya terlihat lelah, tetapi masih dengan ekspresi dingin yang khas.

"Keluar sebelum gue berubah pikiran dan kunci pintu ini lagi," katanya dengan nada datar.

Nayra menatap Davian dengan mata yang bengkak, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Meski tubuhnya masih gemetar, ia merasakan kekuatan kecil yang mulai tumbuh di hatinya. Kata-kata mamanya masih terngiang di telinganya, memberikan harapan dan keberanian untuk melangkah.

Still, I Choose You [ ON GOING ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang