---------
---------------
Jennie pov
Aku sudah berada di kampus bersama teman-temanku. Kami sedang mendengarkan dengan saksama penjelasan profesor kami ketika Park Jimin datang dengan dua orang di belakangnya.
"Semuannya, silakan sapa Pak Jimin," kata profesor kami. Kami semua berdiri dan menyapa Jimin.
"Selamat siang, Pak!" sapa kami semua serempak.
"Ah, hai selamat siang, tidak perlu formal terutama kau Jennie" kata Jimin sambil tertawa. Aku tersenyum malu dan kami semua duduk kembali.
"Jadi, anak-anak, aku ingin mengumumkan bahwa kalian punya teman sekelas baru," katanya sambil menoleh ke belakang. "Silakan perkenalkan diri kalian," imbuh Jimin.
"Hai teman-teman, aku Park Woojin. Senang bertemu kalian semua," katanya sambil menatapku sambil menyeringai. Aku merinding, jadi aku mengalihkan pandangan.
"Dan aku Kang Daniel," katanya sambil membungkuk dan tersenyum lebar. Dia tampak seperti pria baik, tetapi tidak dengan yang satunya. Itu membuatku merinding.
"Senang bertemu kalian berdua. Kalian boleh duduk di belakang Kang Daniel dan kelompoknya," kata profesor kami dan kedua mahasiswa baru itu membungkuk dan pergi, lalu duduk di tempat duduk mereka.
"Itu saja. Aku akan pergi sekarang," katanya dan hendak pergi. "Oh, dan Jennie?" Jimin memanggil namaku.
"Hm? Ya?" tanyaku.
"Datanglah ke kantorku saat jam istirahat, ya? Bawa juga anak-anak perempuan dan laki-laki," katanya dan aku hanya menganggukkan kepala. Aku heran kenapa?
"Baiklah. Aku pergi dulu. Permisi." Jimin melambaikan tangannya dan meninggalkan ruangan.
"Aku heran kenapa Jimin ingin kita berada di kantornya?" kata Nayeon dan aku hanya mengangkat bahu.
"Aku tidak tahu, tapi mari kita lihat saja" kata Sana dan kami semua menganggukkan kepala.
"Baiklah anak-anak mari kita mulai diskusinya" Ucap profesor kami dan melanjutkan pelajaran.
----------
Skip time
Lonceng Berbunyi |Waktu Istirahat
"Akhirnya! Pelajaran selesai!" kata Jeongyeon sambil meregangkan tubuhnya.
"Itu agak sulit. Pikiranku jadi kacau. Ck," kata Sana sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Itu mudah kok," aku, Nayeon, dan Tzuyu berkata serempak dan kami tertawa.
"Tentu saja! Kalian mengerti! Kami tidak terkejut!" kata Jeongyeon sambil memutar matanya. Aku cemberut saat menyadari sesuatu.
"Kenapa Jendeuk cemberut?" tanya Tzuyu.
"Kalian beruntung. Kalian sekelas dengan kekasih kalian," kataku sambil cemberut, tetapi mereka hanya menertawakanku.
"Tidak apa-apa Jenjen, wisuda kita sudah dekat. Kau tidak perlu khawatir," kata Nayeon sambil menepuk bahuku. "Ayo kita temui teman-teman dan pergi ke kantor Jimin, Bagaimana?" imbuhnya sambil tersenyum.
"Baiklah, aku lupa. Ayo!" kataku dan kami semua meninggalkan ruang kelas. Saat kami meninggalkan ruangan, kami berpapasan dengan anak laki-laki itu.
"Aww! Lenganku, kawan!" Jeongyeon mengerang kesakitan.
"Oh, maafkan aku, bro," kata Suga sambil terkekeh. "Ngomong-ngomong, kalian mau ke mana? Kantin di sana," imbuh Suga sambil menunjuk ke arah kantin dengan jari telunjuknya.
"Kami akan memanggilmu karena Jimin menyuruh kami pergi ke kantornya," kataku sambil mengangkat bahu. "Jadi, ayo pergi," kataku sambil berjalan keluar terlebih dahulu. Aku hanya ingin hari ini cepat berakhir sehingga aku bisa pulang dan menemui Lisa. Tapi dia mungkin sedang di kantornya mengerjakan sesuatu, kurasa dia sedang sibuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Childish Girlfriend (NINI)
RomanceSeorang gadis bernama Lalisa Manoban telah menjalin hubungan dengan seorang Gadis Kekanak-kanakan bernama Jennie Kim. Bukan karya saya, saya hanya menerjemahkan ke bahasa Indonesia!
