-----------
---------------
Keesokan Harinya |08:20 PAGI|
Rosé pov
"Maaf teman-teman, tapi dia masih tidak mau turun," kataku sambil mendesah. Semua orang ada di ruang tamu, kecuali teman laki-laki.
"Dia masih menangis?" tanya Irene dan aku menganggukkan kepalaku.
"Ya, terus menerus. Dia terus menjauhiku. Yang dia inginkan hanyalah Lisa," kataku sambil menatap mereka satu per satu.
"Tunggu dulu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jisoo bingung. "Di mana Lisa? Kenapa dia tidak ada di sini?" tambah Jisoo.
"Sejujurnya aku tahu di mana dia. Teman laki-laki kami meneleponku tadi malam dan mengatakan mereka sedang minum bersama Lisa. Tapi kita tidak perlu khawatir karena geng itu akan menjaganya," kata Jeongyeon sambil duduk di sampingku.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi kepada sepupuku. Dia terus menjauhiku sejak tadi malam," kataku sambil menghela napas dan menutup mata.
"Kenapa kau tidak pergi ke kamarnya lagi? Perbaiki keadaan," kata Jisoo.
"Aku sudah melakukannya, Sayang," kataku dan kudengar semua orang terkesiap kaget. Aku membuka mataku lagi dan menatap mereka.
"Apa?" Aku bertanya.
"Kalian pacaran?! Sejak kapan?!" kata mereka serempak. Aku memutar mataku dan berdiri.
"Kita mulai berkencan beberapa hari lalu. Puas?" kataku dan naik ke atas lagi untuk berbicara dengan Jennie. Aku sampai di kamar Jennie tetapi pintunya terkunci.
"Oh, ayolah, kau pasti bercanda. Pintu ini baru saja terbuka dan sekarang sudah tertutup?" Aku bergumam pada diriku sendiri dan mendesah. Aku mengetuk pintu dan aku dapat mendengar isak tangis Jennie.
"Baby Jen? Ini Aku, unnie Rosie-mu. Kau tidak mau berbicara denganku? Kita bisa perbaiki keadaan," kataku lembut di luar kamarnya.
"T-tidak! Aku tidak menginginkan siapa pun sekarang! Tinggalkan aku sendiri! Aku hanya menginginkan Lisa!" Jennie berteriak di sela-sela isak tangisnya. Aku tidak punya pilihan selain meninggalkannya di sana. Mungkin unnie Irene bisa menenangkan Jennie. Jennie biasanya mendengarkannya jika aku tidak ada. Jadi aku turun lagi untuk mencari Irene.
"Irene unnie?" Aku memanggil namanya dan dia mendekatiku.
"Hmm ya? Ada yang kau perlukan?" tanyanya dan aku mengangguk.
"Ya sudah, bolehkah aku ke kamar Jennie? Tanya irene "Ya Bicaralah padanya karena biasanya dia lebih mendengarkanmu daripada aku" kataku dan Irene menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu aku akan mencoba," kata Irene dan naik ke atas. Aku duduk di sofa di antara Nayeon dan Mina. Kami semua dengan sabar menunggu di ruang tamu untuk kabar terbaru dari Irene.
Rosé pov end
--------------
Irene pov
Begitu sampai di kamar Jennie, aku mengetuk pintu pelan-pelan.
"Hai Baby Jen, ini aku. Irene unnie, boleh kita bicara? Tolong biarkan Unnie masuk," kataku lembut dan suasana hening.
Setelah beberapa saat pintu terbuka memperlihatkan Jennie dalam balutan piyama dan matanya yang bengkak. Aku tersenyum lemah dan masuk ke dalam lalu menutup pintu lagi.
Jennie kembali ke tempat tidurnya sambil berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Aku duduk di sampingnya dan membelai rambutnya dengan lembut.
"Aku tahu apa yang terjadi dan aku mengerti maksudmu" Aku memulai pembicaraan ketika tidak ada satupun dari kami yang berbicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Childish Girlfriend (NINI)
RomanceSeorang gadis bernama Lalisa Manoban telah menjalin hubungan dengan seorang Gadis Kekanak-kanakan bernama Jennie Kim. Bukan karya saya, saya hanya menerjemahkan ke bahasa Indonesia!
