Reyna dan Haikal tengah berjalan di koridor sekolah mereka. Seluruh pasang mata mengamati langkah keduanya yang berjalan beriringan.
Berita mengenai penculikan Reyna, Juna, Hariz, dan Kirana pun sudah merebak di area sekolah. Samuel selaku pelaku sudah dikeluarkan dari sekolah dan tengah mendekam di penjara guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Langkah Reyna dan Haikal akhirnya berhenti di tengah kantin. Di mana teman-temannya sudah menunggu, tak terkecuali Nia. Setelah kejadian kemarin, Nia kembali diperbolehkan untuk berteman dengan Reyna beserta yang lainnya.
"Akhirnya kita bisa kumpul lengkap lagi ya" ucap Juan bahagia
"Kayanya lo ngga pernah kumpul sama kita-kita deh" ujar Renjana mengingat memorinya.
"Juan mah jam istirahat tebar pesona ke kakak kelas bang" ucap Calvin
"Sembarang, yang tebar pesona mah lo. Main basket di tengah lapangan panas-panas gitu" ujar Juan tidak terima
"Udah udah jangan bertengkar deh kalian" tutur Kirana menengahi
"Rey" panggil seseorang membuat seluruh atensi di meja itu berpusat pada sang gadis
"Sana?" Ujar Reyna
"Gue minta maaf, kemarin udah ikut jauhin lo. Gue ngga bermaksud beneran jauhin lo" ucap Sana
"Terus sekarang lo mau apa?" tanya Haikal
Sejatinya Haikal merasa kesal dengan teman adiknya itu. Bagaimana tidak? Sana ikut terbawa arus menjauhi sang adik yang tengah membutuhkan teman.
"Abang" tegur Reyna
Haikal mendengkus. Ia lantas memilih diam, tak ingin ikut campur dalam urusan itu.
"Rey, gue mau temanan lagi sama lo. Lo maafin gue kan?" tanya Sana
"Ngga" jawab Chandra "Lo bisa-bisanya minta maaf kaya gitu setelah perbuatan lo"
"Terus lo apa kak?" tanya Reyna tiba-tiba membuat semua orang heran
"Lo ngga usah ikut campur, gue belum maafin lo ya" ucap Reyna lagi
"Lah? Kok lo belum maafin gue sih. Gue kan udah minta maaf rey, gue juga bantuin lo kemarin" ujar Chandra
"Lo ngga ikhlas bantuin gue? Lagian yang nolongin gue itu bokapnya Nia. Bukan lo kak. Jadi jangan ikut campur sama pertemanan gue" ucap Reyna panjang lebar
Seluruh penghuni kantin bahkan mengamati perseteruan keduanya. Mereka tidak menyangka jika Reyna berani berkata sedemikian rupa. Terlebih kepada Chandra.
Reyna kemudian beranjak dari kursinya dan menyeret Sana ikut serta. Nia yang melihat hal tersebut ikut beranjak dan mengikuti kepergian keduanya.
"Lo sih chan, bikin ulah mulu" ujar Giselle
"Kok gue sih?" tanya Chandra tidak merasa bersalah
"Harusnya lo tuh diem" ucap Renjana sembari memasuki sebuah bakwan ke mulut Chandra agar diam
"Gue duluan" ucap Haikal lalu beranjak
"Eh kal, mau kemana sini dulu" cegah Giselle
"Gue mau balik kelas" jawab Haikal
"Kita udah lama loh ngga kumpul gini, ayoklah di sini dulu. Emang lo ngga kangen?" tutur Giselle
"Emang lo kangen gue?" tanya Haikal
"Iyalah pastinya gue kangen lo" jawab Giselle sembari tersenyum
"Kenapa?" tanya Haikal lagi
"Karena lo temen gue yang berharga" ucap Giselle
KAMU SEDANG MEMBACA
Sadewa (END)
JugendliteraturSadewa Chandra Mahendra pria yang tak pernah bisa menjalani kehidupan dengan tenang, bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya jatuh hati. Namun, karenanya gadis itu justru mengalami teror dari musuhnya. Bagaimanakah Chandra melindungi sang gadis...
