Saat ini semua orang tengah berkumpul di cafe vivi. Ian sebagai owner dari cafe tersebut lah yang mengusulkan ide itu. Ian bahkan menutup gerai cafenya selama seharian ini agar tidak ada yang dapat mengganggu mereka.
"Kita perlu lapor polisi" ujar Haikal memberikan usul
Karena memang sedari kemarin belum ada satu pun di antara mereka yang melaporkan kejadian ini. Banyak yang berpikir perlu waktu 1x24 jam untuk melaporkan orang hilang.
"Jangan" jawab Darren
Mendengar jawaban Darren, Haikal lantas menoleh dan menatapnya dengan tidak suka.
"Maksud lo apa bang? Adek kita ilang loh" ucap Haikal
Darren diam tak menjawab, membuat Haikal semakin murka. Haikal lantas berjalan mendekati Darren yang duduk di ujung cafe.
"Kalau lo ngga mau lapor, biar gue aja sendiri yang kesana" ucap Haikal tepat di depan muka Darren.
Setelah mengatakan itu Haikal beranjak pergi, namun pergelangan tangannya di cekal oleh Darren "Jangan" ujar Darren
"Lo gila? Kenapa ngga boleh lapor Ha!" bentak Haikal
Emosi Haikal tiba-tiba saja memuncak membuat seluruh atensi yang ada di cafe terfokus kepada Haikal. Tidak ada yang menyangka Haikal bisa semarah ini.
Nampaknya ini semua terjadi karena berbagai emosi yang sebelumnya ia tahan, membuatnya kini menjadi sosok paling menyeramkan.
"Jawab! Lo ngga sayang sama Reyna? Adek lo sendiri bang" ucap Haikal
Haikal menjeda ucapannya sejenak, menghempaskan cekalan Darren dan menatapnya sengit.
"Bukan gue ngga sayang kal" ucap Darren turut menatap Haikal namun dengan tatapan yang tak dapat di artikan.
"Terus apa maksud lo?" tanya Haikal mendesak
Darren diam, justru memalingkan wajah dari pandangan sang adik. Hal itu lantas membuat Haikal berteriak frustasi menyisir rambutnya kebelakang.
Di lain sisi Arina terus menatap interaksi di antara keduanya. Jujur ia sangat khawatir akan keberadaan sang adik. Ia berharap bahwa ada seseorang yang segera melaporkan kejadian ini ke kantor polisi karena dirinya sudah tidak memiliki tenaga.
Kemarin, setelah mendapatkan kabar bahwa sang adik hilang. Arina langsung terjatuh pingsan, ia mogok makan dan berusaha keras untuk mencari sang adik kemanapun yang ia tau, namun sayang segala usahanya sia-sia. Ia justru hampir saja celaka bilamana tak lekas menghindari truk oleng di jalan raya malam itu.
Sementara itu Zaynan berjalan perlahan mendekat ke arah Haikal hendak mengajaknya keluar untuk menemani pemuda itu ke kantor polisi. Sama seperti yang lain, hati Zaynan diliputi kerisauan akan ketiadaan sang sahabat. Bahkan orang tua dari Juna sudah berulang kali menanyakan kabarnya dan Zaynan hanya terus berbohong, ia tak ingin orang tua Juna khawatir karena ayah dari Juna memiliki penyakit jantung.
Langkah keduanya terhenti saat seseorang tiba-tiba masuk ke dalam sembari membawa kotak kecil. Sosok ia mulai memandang raut wajah setiap orang yang ada di sana.
"Kalian mau kemana?" tanya Renjana setelah menjatuhkan atensinya pada Haikal dan Zaynan
"Kantor polisi" ucap Zaynan sedangkan Renjana hanya mengangguk lantas memberikan box yang ia bawa kepada Ian.
"Haikal" panggil seseorang membuat Haikal menghentikan langkahnya dan berbalik.
Haikal menatap seseorang yang baru saja memanggilnya. Orang tersebut berjalan mendekat ke arah Haikal dan Zaynan lalu tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sadewa (END)
Ficção AdolescenteSadewa Chandra Mahendra pria yang tak pernah bisa menjalani kehidupan dengan tenang, bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya jatuh hati. Namun, karenanya gadis itu justru mengalami teror dari musuhnya. Bagaimanakah Chandra melindungi sang gadis...
