"Caca.. kita mau kemana sih?" tanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun kepada seorang gadis berusia enam tahun.
"Udah, pokoknya sade ikut aja" jawab sang gadis. Caca
Mereka berdua terus berjalan menyusuri jalan setapak. Sejujurnya Sade mulai takut karena Caca mengajaknya entah kemana terlebih mereka hanya pergi berdua, Dewa kembarannya tidak ikut serta.
"Nah udah sampai" ujar Caca
Sade kemudian menatap sekitar, kosong tak ada apapun di sana. Sebenernya apa yang ingin gadis kecil ini perlihatkan batinnya.
"Lihatnya tuh kebawah itu loh" ucap Caca kemudian mengalihkan arah pandang Sade.
Sesaat Sade terkesima, pemandangan kota terlihat jelas dari arah bukit ini. Ia tak pernah tau bahwa kota akan seindah ini apabila di lihat dari atas.
"Bagus kan?" tanya Caca
"Iya bagus, tapi caca kenapa bisa tau tempat ini?" tanya Sade
"Abang Darren pernah ajak Caca sama Bang ikal ke sini" jawab Caca "Tapi habis itu dimarahi" lanjutnya
"Kenapa?" tanya Sade heran
"Karena ke sini diam-diam"
Sade terkejut, lantas bagaimana nasib keduanya sekarang? Tadi Sade hanya berpamitan untuk bermain di sekitar toko saja, tidak menduga ia akan di bawa ke bukit yang berada di belakang toko.
"Sade tenang aja, ngga akan di marahi kok. Asal Sade jangan bilang-bilang" ucap Caca berusaha menenangkan Sade.
Sade hanya diam, ia memang baru seminggu ini mengenal sang gadis karena insiden pot yang tak sengaja terjatuh itu. Namun, ia merasa sudah begitu dekat dengannya. Bahkan kini ia percaya bahwa mereka tak akan di marahi.
Setelah puas menengok pemandangan mereka berdua segera beranjak dari duduknya dan hendak pulang.
"Caca!" panggil seseorang mengejutkan keduanya.
"Ma.. ma" ucap Caca gugup.
"Pulang" ucap seseorang tadi kemudian segera pulang membawa Sade dan Caca.
"Kamu ini udah mama bilang jangan ke sana-sana. Bahaya. Sekarang kamu malah ajak Sade juga. Kalau kenapa-kenapa gimana?" ucap Tia memarahi anak gadisnya.
Caca hanya diam tak bersuara juga tak menangis. Karena ini bukan kali pertamanya ia berbuat seperti ini. Berbeda dengan Sade, sejak di perjalanan matanya sudah berair. Ia sangat takut akan sorot mata Tia yang nampak begitu marah. Padahal tak ada yang memarahinya, hanya Caca yang dimarahi.
"Bunda Sade nitipin Sade ke mama. Kamu jangan ajak main jauh-jauh Ca" lanjut Tia
"Ma.. maaf ma" ucap Caca menyesal.
"Ya udah sekarang kalian main aja di sana. Main sama Dewa dan Bang Haikal" ucap Tia menunjuk dua pemuda kecil tengah bermain mobil-mobilan di sudut ruangan.
Sade dan Caca kemudian berjalan ke arah sana. Caca menggenggam tangan Sade "udah jangan nangis lagi, ngga papa" ucap Caca
Sade tak menjawab hanya memandangi Caca dan berusaha menghentikan isak tangisnya. Keduanya kini sudah bergabung dengan Dewa dan Haikal.
"Kamu pasti dari sana lagi kan?" tanya Haikal
Caca hanya cengir merasa tak bersalah
"Harusnya kamu ajak aku, besok kita kesana lagi yuk. Dewa juga harus ikut" ucap Haikal
"Yuk!" jawab Caca semangat.
Sade? Jelas ia terkejut, Caca baru saja dimarahi dan ia tak ada takut-takutnya. Kemudian Haikal? Bagaimana sebenernya pemikiran kedua kakak adik ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sadewa (END)
Genç KurguSadewa Chandra Mahendra pria yang tak pernah bisa menjalani kehidupan dengan tenang, bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya jatuh hati. Namun, karenanya gadis itu justru mengalami teror dari musuhnya. Bagaimanakah Chandra melindungi sang gadis...
